Algaer's Blog

Just another WordPress.com weblog

TEORI KONDISIONING PAVLOV Mei 10, 2010

Oleh ARWANI

Selintas tentang Pavlov

Ivan Petrovich Pavlov dilahirkan di Rjasan, Rusia pada tanggal 18 September 1849, dan wafat di Leningrad pada tanggal 27 Pebruari 1936. Ayahnya yang seorang pendeta, menginginkan Pavlov mengikuti jejaknya. Tetapi Pavlov merasa tidak cocok menjadi pendeta, dan lebih memilih memasuki fakultas kedokteran dan mengambil spesialisasi bidang fisiologi. Dengan begitu, pada awalnya Pavlov bukanlah sarjana psikologi. Eksperimen Pavlov di bidang psikologi dimulai ketika ia melakukan studi tentang pencernaan anjing. Dalam percobaan tersebut, ia menemukan bahwa subyek penelitiannya akan mengeluarkan air liur ketika melihat makanan. Selanjutnya ia mengembangkan dan mengeksplorasi penemuannya dengan mengembangkan studi perilaku (behavior study) yang dikondisikan, yang kemudian dikenal dengan Classical Conditioning. Hasil karya ini sampai menghantarkannya menerima hadiah Nobel pada tahun 1904. Teori itu kemudian menjadi landasan perkembangan aliran psikologi behaviorisme, sekaligus meletakkan dasar-dasar bagi pengembangan teori-teori tentang belajar (Sumadi Suryabrata, edisi V, 1990: 280)

Komponen Dasar Teori Kondisioning

Klein menyebut ada empat komponen dasar yang membangun Teori Kondisioning Pavlov. Keempatnya adalah (1) unconditioned stimulus (UCS) (2) unconditioned response (UCR), (3) conditioned stimulus (CS), dan (4) conditioned response (CR). Pavlov sendiri, menurut Bower, sesungguhnya menggunakan kata unconditioned reflex dan conditioned reflex,[1] sebagaimana diindikasikan dalam dua bukunya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul Conditioned Reflex (1927) dan Lectures on Conditioned Reflex (1928). Kata response lebih disukai oleh ahli psikologi Amerika (Bower, 5th ed., 1981: 50).

Masing-masing komponen di atas bisa diidentifikasi dari percobaan pavlov terhadap anjing. Awalnya pavlov meletakkan daging dihadapan anjing. Seketika anjing mengeluarkan air liurnya. Dalam konteks komponen kondisioning, daging tadi adalah unconditioned stimulus (UCS) dan keluarnya air liur karena daging itu adalah unconditioned response (UCR). Selanjutnya, pavlov menghadirkan stimulus baru berupa lampu yang dinyalakan beberapa saat sebelum ia memperlihatkan daging pada anjing. Hal ini dilakukan berulang-ulang, hingga pada akhirnya, hanya dengan menyalakan lampu tanpa diikuti dengan memperlihatkan daging, anjing itu mengeluarkan air liurnya. Nyala lampu, sebelum dipasangkan dengan daging disebut neutral stimuli, tapi setelah berpasangan dengan daging disebut conditioned stimuli. Sedangkan keluarnya air liur oleh CS disebut conditioned response. Proses untuk membuat anjing memperoleh CS disebut conditioning.

Contoh yang paling dekat dengan dunia pendidikan adalah seperti yang dikemukakan oleh Ratna Wilis berikut ini: Pada kali pertama masuk sekolah, Maya diterima oleh seorang Ibu Guru yang ramah, penuh senyuman dan banyak memujinya. Belum lagi dua minggu berlalu, Maya minta diantarkan ke sekolah lebih pagi, sambil berkata kepada ibunya bahwa kelak di kemudian hari, ia ingin menjadi guru. Pada contoh lain, seorang anak enggan pergi ke sekolah karena pada hari pertama masuk sekolah, ia mendapati guru yang tidak ramah, disiplin sekolah yang ketat dan ejekan teman-temannya (Ratna Wilis, 1988: 12-17)

Contoh lain yang diberikan Klein adalah sebagai berikut:

1.Juliet, seorang pengacara di sebuah Firma Hukum, mempunyai perilaku phobia terhadap (kegelapan) malam. Ia menyusun jadwalnya sedemikian rupa sehingga pada saat menjelang malam ia sudah berada di apartemennya. Ia juga selalu menolak di ajak keluar malam Penyebabnya, pada suatu malam, ketika sedang berjalan sendirian, ia pernah diserang seorang laki-laki yang tidak dikenal.

2.Orang takut naik pesawat terbang karena sebelumnya, ketika naik pesawat ia pernah mengalami gerakan memutar dan gerakan naik dan turun secara drastis yang menimbulkan rasa sakit.

3. Seseorang menjadi lapar ketika berada di dapur atau melihat kulkas.

4. Merasa muak kepada sejenis makanan yang pernah membuat kita sakit.

5. Menjadi haus dalam permainan bola karena kita pernah minum dalam latar setting yang sama.

6.Bangkitnya gairah seksual dikala makan malam di bawah remang cahaya lilin, karena dalam pengalaman sebelumnya kita pernah melakukan aktivitas seks sebelum makan dalam suasana yang sama.

7. Menundukkna kepala ketika melewati tangga menuju lantai dasar, karena kita pernah terbentur tangga itu.

Sebagian besar percobaan teori kondisioning klasik meneliti proses kondisioning dengan hanya satu CR. Padahal dalam banyak kasus, beberapa respon dapat terkondisikan selama berpasangnya CS dan UCS. Sebagai misal, ketika ketika CS diujicobakan berkaitan dengan makanan, beberapa respon pencernaan yang berbeda terjadi, yaitu:

1.pengkondisian reflex bantuan air liur dalam menelan makanan

2.pengkondisian respon keluarnya getah perut yang memfasilitasi pencernaan

3.pengkondisian insulin yang memperkuat daya simpan makanan.

Situasi Kondisioning

Sign Tracking (mengikuti pertanda)

Binatang-binatang butuh memperoleh reward berupa makanan dan minuman, dari lingkungan alam mereka.  Peristiwa alam, atau stimulus yang menandakan ketersediaan reward itu, akan didekati binatang itu. Dengan mengikuti stimulus lingkungan sekitarnya, mereka bisa menperoleh makan-minum. Pertimbangan predator dalam mengikuti mangsanya adalah: bentuk khusus, gerakan-gerakan, bau, dan suara-suara yang menunjukkan karakteristik mangsanya.

Perilaku agresif predator merupakan respon spesies-khusus yang bersifat  instingtif (instinctive species-spesific response) yang meningkat oleh pengalaman. Pengalaman menambah kemampuan predator, seperti mengarahkan gigitannya terhadap bagian yang diinginkan dari mangsa, atau bagaimana melumpuhkan mangsa. Predator juga belajar membatasi serangan pada bagian wajah mangsanya agar tidak tergigit.

Pembentukan perilaku pemangsa yang efektif bukanlah hasil kondisioning instrumental, atau ketika perilaku khusus dibutuhkan untuk mendapatkan reward karena respon menyerang predator muda meningkat, bahkan ketika perilaku pemangsanya gagal. Lalu, meskipun hewan bukan pemangsa dapat belajar membunuh hewan lain sebagai makanan, mereka tidak menampakkan sifat-sifat khusus respon spesis-khusus yang bersifat insting dari perilaku pemangsa. Sebagai contoh, meskipun tikus bukan predator dapat dilatih untuk membunuh hewan lain, mereka tidak mendapatkan respon agresif menggigit leher yang ditampilkan tikus predator. Proses kondisioning Pavlov, tidak diragukan lagi, memberikan kontribusi peningkatan serangan pemangsa, yang menyebabkannya mendekati dan mencari mangsanya.

Brown dan Jenkis (1968) melakukan penelitian tentang perilaku mengikuti pertanda (sign tracking) dan pembentukan secara otomatis(autoshaping). Mereka menaruh beberapa merpati dalam kotak operant, yang di dalamnya ditaruh kunci putar kecil yang bisa disinari dan penyalur makanan. Dalam situasi kondisioning operant yang khusus, merpati seharusnya merespon dan mematuk kunci itu dalam rangka mendapatkan makanan/penguatan (reinforcement). Merpati-merpati lapar itu diberi makanan dalam jarak 15 detik dan kunci itu disinari 8 detik sebelum makanan diperlihatkan. Merpati-merpati itu tidak melakukan apa-apa untuk mendapat makanan. Ketika makanan ditampilkan, merpati itu bukannya mendekatinya, tetapi malah mematuk kunci itu. Merpati itu sebenarnya tidak mematuk makanan dalam ragka mendapatkan makanan, tetapi tampilan kunci yang disinari sebelum makanan cukup memunculkan “respon mematuk kunci”. Langkah kondisioning adalah frekwensi dengan mana maerpati-merpati merespon kunci itu. Perolehan respon mematuk kunci adalah lambat, dan merpati-merpati itu hanya belajar secara bertahap untuk mematuk kunci yang disinari.

Mungkin anda berpikir bahwa “patukan-kunci merpati-merpati itu” adalah respon instrumental[2] yang dikuatkan oleh makanan daripada menganggapnya  sebagai respon yang dikondisikan yang dimunculkan oleh kunci yang disinari. Jika patukan kunci benar-benar perilaku operant, maka sifat-sifat khususnya tidak akan berbeda dengan penggunaan penguat yang berbeda.  Bagaimanapun, jika kunci yang disinari memproduksi sebuah respon yang bersifat instingtif, maka respon merpati itu akan berbeda dengan reward yang berbeda. Penelitian tentang pembentukan dengan penguat selain berupa makanan, mengindikasikan bahwa respon patukan kunci lebih sebagai respon yang dikondisikan dibanding sebuah perilaku operant.

Dalam kajian pembentukan otomatis, Jenkis dan Moore menggunakan makanan dan air sebagai penguat. Merpati-merpati itu menunjukkan perbedaan yang jelas antara penyambutan merpati atas makanan dan air. Merpati yang terbentuk lewat penguat berupa makanan, akan mematuk kunci dengan keras dan bersemangat, sebagaimana perilaku mereka terhadap makanan. Sementara yang terbentuk oleh air akan mematuk kunci dengan lambat dan menyentuh kunci lebih lama (seperti gerakan meminum air). Yang pertama, karena merpati itu mengasosiasikan kunci dengan makanan, sementara yang kedua mengasosiasikannya dengan air.

Eyeblink Kondisioning (pengkondisian kerdipan-mata)

Tiupan udara diarahkan ke mata kelinci. Kelinci secara reflek akan mengerdipkan matanya. Jika sebuah suara dipasangkan dengan tiupan udara tadi, kelinci akan mengedipkan matanya sebagai respon terhadap suara itu, sebagaimana ia merespon tiupan angin. Berpasangnya suara (CS) dengan tiupan angin (UCS) mengarahkan pembentukan respon kerdipan mata (CR). Proses yang menuntun respon kelinci tadi disebut dengan eyeblink conditioning. Gambar 3.3 (hal, 44), menampilkan peralatan yang digunakan untuk kondisioning. Potensiometer mencatat penutupan mata yang mengikuti tiupan udara atau sebuah suara.

Kondisioning kerdipan mata menjadi mungkin karena selain memiliki kelopak mata bagian luar sebagaimana manusia, kelinci juga memilki kelopak mata bagian dalam yang disebut selaput nictitating (nictitating membrane). Selaput itu bereaksi dengan menutup mata ketika merasakan adanya gerakan udara di seputar matanya. Hal itu menyebabkan kelinci menutup matanya.

Fear Conditioning   (kondisioning rasa takut)

Rasa takut bisa diukur dengan beberapa jalan. Salah satunya adalah dengan perilaku pelarian atau penolakan dalam respon terhadap stimuli yang diasosiasikan dengan sebuah rasa sakit yang takterkondisikan. Walaupun perilaku penolakan mempunyai hubungan yang tinggi dengan rasa takut, kinerja penolakan tidak secara otomatis menyediakan ukuran ketakutan.

Ukuran lain dari ketakutan adalah Respon emosi yang terkondisikan (conditioned emotional response/CER). Binatang bisa jadi ketakutan dalam lingkungan terbuka ketika melihat sebuah stimulus yang ditakuti. Mereka akan menahan perilaku operant yang dikuatkan dengan makanan atau minuman ketika stimulus yang ditakuti itu muncul. Esters dan Skinner menyusun prosedur CER untuk mendeteksi tingkat ketakutan dan metodologi mereka seringkali digunakan untuk menyediakan ukuran ketakutan yang terkondisikan. Pengkondisian ketakutan berkembang lebih cepat  ketika pengkondisian ketakutan dan penekanan yang berarti bisa ditemukan dalam 10 percobaan.

Untuk mendapatkan ukuran dari ketakutan yang terkonsisikan, peneliti, awalnya menyuruh  binatang untuk menekan penghalang atau mematuk kunci  untuk mendapat makanan atau minuman. Setelah pelatihan operant ini, stimulus netral (biasanya lampu atau suara) dipasangkan dengan peristiwa penolakan (biasanya kejutan listrik atau suara keras). Binatang itu kemudian dikembalikan ke kamar operant, dan lampu atau suara di hadirkan selama pelatihan.  Penampakan CS mengikuti periode waktu yang sama dengan ketika CS tidak nampak. Ketakutan yang dikondisikan dengan suara atau lampu akan mengerahkan penekanan dari perilaku operant. Ketika ketakutan hanya di kondisikan terhadap CS, binatang akan menampakkan perilaku operant ketika CS tidak nampak.

Untuk menentukan tingkat ketakutan yang dikondisikan kepada CS kita bisa menghitung rasio penekanan (supression ratio) Suppression ratio ini membandingkan tingkat respon selama jarak antara ketika CS tidak nampak dan tingkat respon ketika CS hadir. Rumusnya adalah:

Responses during CSSupression ratio=  ———————————————————

Responses during CS + Responses without CS

Nilai 0,5 menandakan bahwa ketakutan tidak terkondisikan kepada CS karena respon binatang sama saja ketika CS hadir maupun tidak. Sebagai conto, jika respon binatang sejumlah 15 kali ketika CS muncul dan 15 kali juga ketika CS tidak muncul, maka nilai rasionya adalah 0,5. nilai 0 menandakan bahwa respon binatang terjadi hanya ketika CS tidak ada. Sebagai misal, binatang merespon 0 kali ketika CS ada dan merespon 15 kali ketika CS tidak ada. Sebagian besar percobaan, nilainya anatar 0 sampai 0,5.

Flavor-Aversion Learning (pembelajaran penolakan rasa)

Ada seseorang yang tidak mau berjalan di dekat jajaran tomat di supermaket, karena melihat tomat akan membuatnya sakit. Seseorang yang lain merasa muak setelah makan di restoran dan kemudan ia tidak pernah mau datang lagi ke restoran  itu. Mereka berperilaku begitu karena di waktu lampau pernah mengalami sakit ketika melakukan hal yang sama. Kemudian mengasosiasikan tomat dan restoran dengan rasa sakit lewat konsisioning Pavlov yang lebih spesific disebut penolakan rasa yang terkondisikan (conditioned flavor-aversion).

Penelitian John Garcia mengungkapkan bahwa hewan juga bisa melakuakan asosiasi terhadap rasa tertentu kepada rasa sakit. Meskipun tikus-tikus menyukai rasa manis dan mengonsumsinya dalam jumlah besar, Garcia menemukan bahwa tikus itu tidak akan mengonsumsinya jika hal itu diikuti oleh rasa sakit. Garcia melakukan percobaan dengan membuat rasa sakit pada tikus lewat bantuan sinar X setelah tikus itu mengonsumsi rasa manis. Tikus itu kemudian menolak makanan atau minuman yang mengandung rasa manis. Belajar menolak rasa itu ternyata dilakukan dengan cepat lewat sekali percobaan.

Apakah ketidaksukaan seseorang terhadap makanan tertentu mencerminkan pembentukan sikap penolakan rasa? Nampaknya beralasan bahwa penolakan seseorang terhadap makanan tertentu disebabkan karena ia pernah makan makanan itu lalu mengalami sakit karenanya. Meskipun rasa sakit itu tidak terjadi lagi setelah beberapa jam kemudian,  pelaku tetap saja melakukan penolakan terhadap makanan itu. Dari sisi usia, respon penolakan rasa ini lebih banyak terjadi pada usia antara 6 dan 12 tahun, dibanding di luar usia itu.

Berbagai pola berpasangnya CS-UCS dalam kondisioning

Ada lima macam prosedur pemasangan CS-UCS dalam proses kondisioning, yang masing-masing mempunyai tingkat efektifitas tersendiri

1. Delayed Conditioning

Dalam kondisioning pola ini, CS muncul terlebih dulu, dan menghilang pada saat, atau selama kemunculan UCS. Sebagai misal, pada suatu malam yang gelap gulita, muncullah badai topan yang dahsyat. Malam yang gelap (CS) hadir sebelum badai (UCS) dan tetap ada pada saat badai terjadi.

2. Trace Conditioning

CS muncul terlebih dahulu dan menghilang sebelum kemunculan UCS. Contohnya adalah panggilan ibu (CS) kepada anaknya untuk makan. Panggilan itu muncul dan menghilang sebelum makanan (UCS) dihidangkan.

3. Simultaneous Conditioning (Kondisioning Simultan)

CS dan UCS dihadirkan secara bersamaan. Misal ketika kita memasuki restoran. Suasana restoran (CS) dan bau makanan (UCS) hadir secara bersamaan.

4. Backward Conditioning (Kondisioning Terbalik)

UCS justru muncul dan berhenti sebelum CS. Misalnya makan malam di bawah remang cahaya lilin (CS) yang sebelumnya didahului oleh aktivitas seksual (making love) (UCS).

5. Temporal Conditioning (Kondisioning Temporer)

Dalam kondisioning ini, posisi CS dan UCS tidak bisa dijelaskan secara eksplisit. UCS dimunculkan dalam jarak waktu yang telah ditentukan. Contohnya adalah pemasangan alarm atau jam weaker, di setiap pukul 06.00 pagi.

Di luar kelima pola di atas, penyusun mencatat masih ada satu pola lagi yaitu pola ketika CS muncul sebelum, dan berhenti sesudah UCS. Misalnya suasana malam hari ketika Juliet diserang seseorang. Kegelapan malam (CS) hadir sebelum penyerangan (UCS). Setelah peristiwa itu, suasana malam masih tetap ada dan baru hilang beberapa waktu kemudian. Atau malam ketika badai datang sebagaimana dalam contoh delayed conditioning di atas.

Dari kelima pola di atas, yang pertama adalah yang paling efektif dan yang keempat adalah yang paling kurang efektif dalam menghadirkan conditioned response.

Kondisi-kondisi Tertentu yang Mempengaruhi Diperolehnya Conditioned Respon.

1. Kontiguitas

Klein mencontohkan sebuah peristiwa ketika seorang ibu mengancam akan melaporkan anaknya yang memukul adiknya, kepada ayahnya agar dihukum. Saat itu sang ayah masih bekerja dan baru tiba di rumah beberapa jam kemudian. Anak itu ternyata tidak takut terhadap ancaman ibunya. Ketidaktakutan anak terjadi karena interval antara ancaman (CS) dan hukuman dari ayah (UCS) teramat jauh. Sementara sebelum peristiwa tersebut, anak juga telah mengalami situasi yang sama, sehingga jarak antara CS dan UCS itu memotivasi anak untuk melakukan sesuatu yang bisa menghindari hukuman. Misal dengan menangis atau berjanji untuk tidak nakal lagi. Kondisi semacam ini disebut perilaku penghindaran (avoidance behavior).

Karenanya, menurut Klein, jarak antara CS dan UCS, yang diistilahkan dengan interstimulus interval (ISI) mempunyai tingkat optimalitas tersendiri antara satu kondisioning dengan lainnya. Gambar 3.5, halaman 50 menunjukkan ISI paling optimal dari percobaan eyeblink Conditioning pada manusia.  Di bawah atau di atas titik optimal itu, kondisioning tidak optimal. Selain itu, penelitian lain yang dilakukan oleh Rescola juga membuktikan bahwa stimulus kedua diantara CS pertama dan UCS juga terbukti bisa meningkatkan optimalitas kondisioning.

2. Tingkat intensitas CS dan UCS

Tingkat intensitas CS tidak begitu berpengaruh terhadap subyek yang hanya mengalami kondisioning atas satu ukuran CS saja. Tetapi jika subyek pernah mengalaminya atas dua atau lebih dari CS, maka CS yang mempunyai tingkat intensitas lebih tinggi akan lebih optimal memunculkan CR. Misalnya, ketika kita pernah dua kali digigit anjing dengan ukuran berbeda, maka jika gigitan itu sama sakitnya, kita akan lebih takut kepada anjing (CS) yang berukuran lebih besar. Atau, seorang guru yang galak dengan fisik tinggi besar dan kumis tebal akan lebih ditakuti dibanding guru dengan tingkat kegalakan yang sama tapi bertubuh kecil dan wajah imut-imut tanpa kumis. Hal yang sama juga terjadi pada UCS. Intensitas UCS yang lebih tinggi akan lebih memungkinkan tingkat capaian CR yang lebih tinggi dibanding tingkat intensitas UCS yang lebih rendah.

3. Tingkat kemenonjolan CS

Beberapa stimulus netral yang dipasangkan dengan UCS, akan menumbuhkan tingkat asosiasi yang berbeda terhadap UCS. Bahkan ada yang tidak menumbuhkan asosiasi sama sekali. Hal ini berkaitan dengan dua hal. Pertama, kesiapan subyek untuk melakukan asosiasi atas stimulus itu dan kedua, berkaitan dengan tingkat kemenonjolan stimulus itu bagi subyek. Kedua faktor itu saling berkelindan antara satu sama lainnya.

4. Tingkat Prediksi CS

Yang juga mempengaruhi tingkat capaian CR adalah seberapa kuat kehadiran CS menandakan akan hadirnya UCS. Semakin kuat tanda-tanda CS akan menghadirkan UCS, maka semakin tinggi pula capaian CR. Begitu pula sebaliknya. Dalam penelitiannya terhadap subyek manusia, Hartman dan Grant, sebagaimana gambar 3.9 hal. 56 menunjukkan bahwa semakin besar frekwensi kehadiran UCS “menemani’ CS, semakin besar pula tingkat CR yang dicapai.

5. Nilai Lebih CS

Jika CS lebih dari satu, maka kemampuan sebuah CS menandakan kehadiran UCS akan menghalangi tumbuhnya asosiasi CS lainnya atas UCS. Dalam contoh pada nomor 1 (kontiguitas), anak sebenarnya sudah takut akan kehadiran ayahnya. Perasaan lebih takut pada kehadiran ayahnya ini, mengalangi berkembangnya asosiasi dari ancaman ibunya terhadap hukuman. Kehadiran sang ayah adalah CS pertama dan ancaman ibu adalah CS kedua. Contoh lain adalah pada percobaan terhadap tikus sebagaimana tertuang dalam gambar 3.10 hal. 57. CS pertama berupa cahaya lampu. CS kedua berupa suara. Dan UCS berupa kejutan listrik. Tanda-tanda kehadiran UCS yang ada pada CS pertama, menghalangi tumbuhnya asosiasi CS kedua terhadap UCS.

Diperolehnya CR Tanpa Berpasangnya CS-UCS

Walaupun kebanyakan CR diperoleh melalui pengalaman langsung, banyak stimuli mampu menimbulkan CR secara tidak langsung. Meskipun suatu stimulus tidak pernah secara langsung dipasangkan dengan UCS, ia bisa saja menimbulkan CR. Sebagai contoh, sebagian orang gelisah ketika menghadapi test dan mengembangkan ketakutan mereka, karena pernah gagal test. Tetapi sebagian yang  lain yang belum pernah engalami kegagalan test, juga mengalami ketakutan yang sama.

Higher-Order Conditioning (kondisioning bertingkat)

Semester lalu, Anda mendapat hasil kurang baik pada kuliah profesor Jones. Anda tidak hanya tidak menyukai Profesor Jones, tetapi juga tidak menyukai Profesor Rice, teman dari Profesor Jones. Kenapa Anda tidak menyukai Profesor Rice yang belum pernah mengajar Anda? Higher-Order Conditioning menyediakan suatu kemungkinan alasan mengapa anda tidak menyukainya.

Pavlov ( 1927) mengamati, bahwa setelah berpasangnya beberapa CS-UCS, kemunculan  CS dengan stimulus netral yang lain (CS-2) memungkinkan  CS-2 menimbulkan CR. Di dalam salah satu studi Pavlov yang menggunakan anjing, suatu nada ( pukulan suatu metronom) dipasangkan dengan bedak daging. Setelah kondisioning tingkat pertama, nada dimunculkan di ruangan berwarna hitam tanpa bedak daging. Setelah berpasangnya nada dan ruangan berwarna hitam, maka ruangan berwarna hitam (CS-2) itu sendiri sudah bisa menimbulkan keluarnya air liur. Pavlov menyebut kondisioning ini dengan Higher-Order Conditioning.

Riset terhadap Higher-Order Conditioning

Kekuatan CR yang diperoleh melalui higher-order conditioning lebih lemah dibanding CR yang diperoleh melalui kondisioning tingkat pertama. Pavlov menemukan bahwa kekuatan CR urutan ke dua (baca: CR yang dihasilkan higher-order conditioning) kira-kira 50% dibanding CR tingkat pertama, CR urutan ketiga sangat lemah dan CR tingkat empat mustahil untuk dikembangkan.

Para psikolog sejak Pavlov melakukan kajian aslinya, tidak mesti sukses memunculkan CR melalui higher-order conditioning. Rescorla memberikan alasan yang sangat baik menyangkut kegagalan higher-order conditioning itu. Menurut Rescorla, masalahnya adalah, memasangkan CS-2 dan CS-1 tanpa UCS dalam fase kedua, juga merupakan satu pola dari kondisioning inhibisi. Lantas, kapan higher-order conditioning terjadi? Rescola dan kawan-kawannya menemukan bahwa terbangunnya kondisioning pembangkitan/pemunculan CR, lebih dahulu terjadi dibanding kondisioning inhibisi. Maka dengan sedikit kali pemasangan CS-2 dan CS-1, CS-2 akan mampu memunculkan CR. Pemasangan yang lebih dari itu justru akan berubah menjadi inhibisi.

Sensory Preconditioning (Penglihatan pra-kondisioning)

Perhatikan contoh berikut ini. Tetangga anda memiliki suatu anjing herder besar. Anda mengasosiasikan tetangga anda dengan anjingnya. Ketika anda sedang berjalan, lalu anjing itu menggigit anda, kemudian anda takut anjing itu. Dalam kondisi demikian, boleh jadi anda menjadi tidak menyukai tetangga itu sebagai  hasil asosiasi dengan anjingnya.

Dalam sensory pre-conditioningdua stimuli netral, CS-1 dan CS-2 dipasangkan. Setelah asosiasi terjadi antar CS-1 dan CS-2 ( tetangga dan anjing), CS-1 muncul bersama UCS (gigitan). Berpasangnya CS-1-UCS menghasilkan kemampuan  CS-2, seperti halnya CS-1, untuk menimbulkan CR (ketakutan). Sebagai hasil awal asosiasi antara CS2-CS1, CS-2 bisa menghasilkan CR, walaupun tidak pernah secara langsung dipasangkan dengan UCS.

Kondisioning Seperti Mengalami Sendiri

Seseorang bisa saja membangin respon emosional atas sesuatu bukan karena mengalami sendiri tetpai karena melihat orang lain mengalaminya. Seseorang, misalnya takut pada anjing karena melihat temannya digigit anjing. Kondisioning seperti ini disebut vicarious conditioning.

Proses Pemudaran

Dari pembahasan di atas, kita mengetahui proses kondisioning yang menumbuhkan CR. Keberadaan CR dalam diri seseorang seringkali menyebabkan ketidaknyamanan dalam hidup. Bagian ini akan menjelaskan tentang pola-pola yang bisa digunakan dalam proses pemudaran (extinction) atas CR yang telah diperoleh.

Beberapa Hal yang Bisa Mempengaruhi Cepat Lambatnya Pemudaran

1. Kekuatan CR

Semakin kuat ikatan anatara CS-CR, maka proses pemudaran CR akan semakin sulit. Meskipun beberapa penelitian menemukan adanya resistensi atas pemudaran CR lebih kuat pada CR yang mempunyai tingkat capaian lebih tinggi, namun hal itu tidak berlaku mutlak.

2. Pengaruh Kekuatan Prediksi CS

Di muka telah dijelaskan tentang kekuatan prediksi CS atas kemunculan UCS. CS yang lebih besar kekuatan prediksinya, akan memunculkan CR lebih besar. Berkaitan dengan proses pemudaran, dalam gambar 3.11 hal. 59 dijelaskan bahwa proses pemudaran  akan dicapai lebih cepat atas CR yang didapat dari CS yang mempunyai prediksi kehadiran UCS lebih besar. Sebaliknya, pemudaran akan lebih lambat terhadap CR yang terbentuk dari CS yang tingkat prediksinya lebih rendah. Hal ini karena tingkat spekulasi CS lebih tinggi.

3. Durasi penampakan CS tanpa UCS

Dalam proses pemudaran yang menentukan tingkat keberhasilannya adalah total durasi penampakan CS tanpa UCS, bukannya jumlah berapa kali ia nampak. Dalam sebuah penelitian sebagaimana yang ditunjukkan gambar 3.12 hal. 60 menunjukkan bahwa total durasi penampakan CS tanpa UCS yang lebih besar, menunjukkan tingkat pemudaran yang lebih tinggi.

Recovery Spontan

Dalam proses pemudaran ini, tidak menutup kemungkinan, CR akan tumbuh kembali seperti semula. Peristiwa ini disebut recovery spontan atau pemulihan CR secara seketika.

Proses-proses Pencegahan lainnya

1. Inhibisi yang terkondisikan

Inhibisi adalah pencegahan munculnya CR karena CS. Salah satunya adalah dengan menampilkan CS yang bersifat negatif. Contohnya adalah untuk memudarkan CR berupa rasa lapar ketika melihat kulkas, karena mengasosiasikannya dengan makanan. Kulkas, dalam kondisi tadi merupakan CS positif. Inhibisi bisa dilakukan dengan mengosongkan kulkas. Kulkas kosong adalah CS negatif, yang bisa mencegah munculnya CR. Inhibisi semacam ini disebut Conditioned Inhibition.

2. Inhibisi Eksternal

Inhibisi eksternal adalah inhibisi yang dilakukan dengan menampilkan stimulus baru. Pemunculan stimulus baru dalam kondisioning dapat menghalangi CR. Akan tetapi jika kemudian stimulus baru ini tidak dimunculkan kembali, maka, CR akan kembali seperti semula.

3. Inhibisi Terpendam

Inhibisi jenis ini dilakukan dengan memperlambat kemunculan CS-UCS secara bersama. Dengan begitu kekuatan prediksi CS atas kehadiran UCS akan menurun.  Akan tetapi, CR akan muncul seperti semula ketika CS dan UCS hadir secara berpasangan lagi.

4. Inhibisi dari Penundaan

Inhibisi jenis terjadi karena terjadi penundaan atas munculnya CR, karena jarak antara CS dan UCS. Misal ketika kita masuk restoran. Kita menunda keluarnya air liur, sampai makanan tersedia.

5. Terganggunya Inhibisi

Dalam bagian yang telah lalu, telah disampaikan bahwa kemunculan stimulus baru selama kondisioning menyebabkan tercegahnya kemunculan CR. Hal yang sama akan terjadi dalam inhibisi. Munculnya stimulus baru akan mengacaukan proses inhibisi, karena stimulus baru itu justru akan memancing kemunculan CR. Peristiwa semacam ini disebut disinhibition.

Desensitisasi Sistematis, Penerapan Teori Pavlov dalam Terapi

Teori Kondisioning Pavlov bisa digunakan untuk mengubah perilaku phobia. Prosedur yang disebut dengan desensitisasi sistematis ini, telah digunakan untuk menghilangkan phobia. Misalnya seseorang sangat takut dalam ujian. Ketakutan ini bisa saja disebabkan dirinya tidak menguasasi pelajaran. Apa yang dapat dilakukan agar ia bisa menjalani ujian tanpa merasa takut? Jawabannya adalah desensitisasi sistematis, suatu terapi yang dikembangkan oleh Joseph Wolpe, untuk menghalangi munculnya rasa takut dan menekan perilaku phobia. Terapi Wolpe ini menggunakan Teori Kondisioning Pavlov.

Berasal dari Penelitian Terhadap Binatang

Terapi Wolpe dikembangkan dari risetnya terhadap binatang. Ia memberi kejutan sekelompok kucing dalam sangkar mereka setelah mereka mendengar suara bel listrik. Terhadap kucing yang lain, ia memasangkan bel listrik dengan makanan dalam sangkar  mereka dan kemudian memberi kejutan. Kedua kelompok kucing itu kemudian menunjukkan ketakutan yang ekstrim terhadap bel listrik; satu indikasi  ketakutan mereka adalah penolakan mereka untuk makan ketika mendengar bel listrik.

Jadi, selama ketakutan mencegah untuk makan, maka, menurut Wolpe, makan bisa menekan ketakutan. Wolpe kemudian menggunakan kontra kondisioning– yaitu proses pembentukan sebuah respon untuk melawan respon yang diperoleh sebelumnya, sebagai cara efektif yang berpotensi untuk mengobati perilaku phobia manusia.

Awalnya, Wolpe memindahkan kucing yang takut pada bel dan lingkungan yang pernah ditempati kucing ketika ketakutan pada bel itu terbentuk, ke sebuah sangkar yang sangat berbeda dari sangkarnya dulu. Wolpe mengamati bahwa kucing-kucing itu makan dalam sangkar yang berbeda tanpa terlihat ketakutan selama dan sesudah makan. Wolpe menyimpulkan bahwa dalam lingkungan yang berbeda, respon makan mengalahkan respon ketakutan. Dalam sangkar yang berbeda, ketakutan dihilangkan. Alasan berkurangnya ketakutan yang dikondisikan dalam sangkar yang berbeda  digeneralisir  sebagai sangkar kedua. Ketika menggunakan proses kontra kondisioning, Wolpe menemukan bahwa pemunculan makanan dalam sangkar dengan cepat akan membalikkan ketakutan kucing.

Perawatan secara klinis

Wolpe ( 1958) percaya phobi manusia bisa dihapuskan dengan cara yang serupa dengan yang  ia gunakan terhadap kucingnya. Ia menggunakan tiga macam cara untuk inhibisi; relaksasi, pernyataan tegas, dan tanggapan seksual. Kita akan membatasi diskusi kita dalam bab ini kepada penggunaan relaksasi.

Terapi Wolpe yang menggunakan relaksasi untuk menolak balik perilaku phobia manusia disebut desensitisasi sistematis. Desensitisasi melibatkan relaksasi selagi membayangkan peristiwa yang menyebabkan ketakutan. Untuk mempromosikan relaksasi, Wolpe menggunakan satu rangkaian latihan otot yang telah dikembangkan Jacobson  tahun 1938. Latihan ini melibatkan penegangan otot tertentu  dan kemudian melepaskan tegangan atau proses pengenduran. Penegangan dihubungkan dengan ketakutan dan pengenduran adalah relaksasi. Pasien menegangkan dan merelaksasi  kelompok otot utama itu dalam suatu urutan spesifik. Relaksasi sangat efektif ketika fase penegangan akhir dilakukan selama 10 detik diikuti relaksasi selama 10 sampai 15 detik. Sebuah prosedur khusus membutuhkan 30 sampai 40 menit untuk melengkapi proses itu. Tetapi, dalam terapi selanjutnya pasien membutuhkan lebih sedikit waktu karena mereka lebih siap untuk menjalani relaksasi.

Perawatan desensitisasi mencakup empat bagian langkah: (1) penyusunan hirarki kegelisahan, (2) pelatihan relaksasi, (3) kontra kondisioning, yaitu pemasangan relaksasi dengan stimulus yang ditakuti, (4) pengukuran sejauh mana pasien dapat berinteraksi dengan obyek yang ditakuti. Dalam tahapan pertama, pasien disuruh untuk menyusun rangkaian tingkatan peristiwa yang menakutkan yang berhubungan dengan kegelisahan (ketakutan) mereka. Mereka menyusun mulai dari tingkat yang paling rendah tingkat ketakutannya, sampai yang paling tinggi.

Paul ( 1969) mengenalkan dua jenis hirarki utama: tematik dan ruang-waktu. Dalam hirarki tematik, peristiwa dihubungkan dengan suatu tema dasar. Tabel 3.1 hal. 71, menunjukkan dengan detail kegelisahan seorang salesman asuransi ketika mengantisipasi hubungan dengan teman sekerja atau klien. Masing-masing peristiwa di dalam hirarki berhubungan dengan ketakutannya dari kemungkinan kegagalan dalam pekerjaannya. Sedangkan hirarki ruang-waktu berdasar pada perilaku phobia di mana intensitas ketakutan ditentukan oleh jarak (psikis atau waktu) kepada obyek yang menakutkan itu. Tabel 3.2 hal 72 adalah hirarki ruang-waktu seorang siswa yang akan menjalani ujian.

Setelah itu pasien belajar melakukan relaksasi untuk mencegah generalisasi relaksasi terhadap stimulus yang bersifat hirarkis agar tidak menghalangi ketepatan pengukuran tingkat ketakutan terhadap stimulus-stimulus itu. Selanjutnya adalah fase kontra kondisioning. Pasien disuruh untuk rileks, sambil membayangkan peristiwa yang menakutkan, dari yang paling rendah tingkat ketakutan pasien, kemudian secara bertahap sampai tingkat yang paling menakutkan. Hingga pada akhirnya pasien tidak merasa takut lagi ketika menggambarkan peristiwa-periatiwa itu.

Penerapan dalam Dunia Pendidikan

Karena keterbatasan referensi, agak sulit mencari gambaran tentang hasil penelitian empiris tentang penerapan teori pavlov ini dalam dunia pendidikan, apalagi penerapannya dalam kelas. Beberapa eksperimen yang dilakukan di Amerika Serikat tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Yang paling populer adalah penggunaan teori pavlov di dunia psikologi klinis (Nana Sudjana, 1991: 72 dan Tim Penulis Buku Psikologi Pendidikan FIP IKIP Yogjakarta, 1991: 74). Akan tetapi di sini akan dicoba untuk menerapkan berbagai prinsip teori kondisioning Pavlov dalam dunia pendidikan dengan menggunakan analogi.

Kondisioning dengan UCS yang menyenangkan

Kondisioning ini akan memunculkan respon yang menyenangkan ketika subyek berinteraksi dengan CS. Kondisi menyenangkan itu sendiri merupakan kondisi psikologis yang sangat diperlukan untuk meningkatkan efektivitas belajar, membuat anak merasa nyaman, meningkatkan minat dan motivasi anak untuk masuk sekolah. Seperti dalam kasus Maya pada contoh di muka, tersedianya UCS yang menimbulkan perasaan senang sangat diperlukan. Untuk itu, dunia pendidikan perlu untuk mengembangkan sistem komunikasi, pola hubungan pendidik-subyek didik, metode pembelajaran, lingkungan, baik fisik maupun non-fisik yang memunculkan perasaan senang dalam diri subyek didik. Disamping itu, perlu dimunculkan berbagai media pembelajaran, yang selain bisa menambah daya imajinasi, juga membantu proses asosiasi, sehingga akan mempermudah dan sekaligus meningkatkan pemahaman subyek didik.

Kondisioning dengan UCS yang tidak menyenangkan

UCS yang tidak menyenangkan akan memunculkan perilaku penghindaran (avoidance behavior). Subyek akan merespon dengan upaya agar tidak berada dalam kondisi tersebut. UCS itu bisa berbentuk hukuman. Akan tetapi bentuk hukuman harus diupayakan agar bersifat mendidik dan tidak memunculkan kesan yang negatif, yang akan menghalangi kesan menyenangkan dari kondisioning sebelumnya. Kondisioning semacam ini bisa digunakan dalam rangka meningkatkan kedisiplinan.

Memudarkan Respon Negatif Subyek Didik

Dalam dunia pendidikan ada banyak kasus di mana subyek didik merasa tidak nyaman berada di sekolah atau tempat pendidikan lainnya. Ada juga yang tidak suka, bahkan benci terhadap mata pelajaran atau pendidik tertentu. Dalam perspektif teori kondisioning, hal ini adalah response terkondisikan dari sebuah proses kondisioning. Respon-respon seperti itu bisa mengurangi, bahkan menggangu efektifitas pembelajaran. Teori Pavlov menyediakan banyak cara untuk mengeliminir respon-respon tersebut dengan proses pemudaran (extinction), atau paling tidak mencegah munculnya respon tersebut lewat inhibisi.

Kesimpulan

Teori Kondisioning Pavlov menyediakan informasi tentang kemungkinan munculnya respon berupa kondisi psikologis tertentu yang membekas dalam diri subyek, tidak hanya terhadap substansi peristiwa itu, tetapi juag terhadap lingkungan atau sesuatu yang bisa diasosiasikan dengan peristiwa tadi. Respon yang muncul bisa positif bisa pula negatif. Untuk respon yang negatif, Teori Pavlov menyediakan pula cara untuk memudarkan respon tersebut. Penerapan teori ini sudah sangat luas digunakan sebagai landasan metode pengobatan dengan terapi tertentu. Karenanya data-data empiris tentang penggunaan dan efektivitas penerapannya dalam lingkup ini mudah didapat.

Sebaliknya, dalam lingkup pendidikan, pengembangan teori ini tidak seluas sebagaimana dalam lingkup pengobatan/terapi. Akan tetapi peluang ke arah itu terbuka lebar. Hanya saja, mengingat subyek didik adalah manusia yang memiliki banyak dimensi, teori ini juga mempunyai banyak keterbatasan, sehingga hanya aspek tertentu saja yang bisa diteropong dengan teori ini.


[1] Situs e-psikologi.com, selain menggunakan unconditioned response dan conditioned response juga menggunakan unlearned response dan learned response.  Istilah terakhir ini sangat dekat dengan makna belajar.

[2] Dalam kondisioning instrumental, proses penguatan dalam suatu percobaan dibuat saling tergantung terhadap respon. Salah satu contoh kondisioning instrumental adalah mengajarkan anjing untuk mengangkat kaki depannya sebagi pertanda agar anjing itu mendapat makanan sebagai imbalan (Bower, 1981:64).

 

5 Responses to “TEORI KONDISIONING PAVLOV”

  1. hana Says:

    thanks ya…. bwt teorinya….
    q harap juga Tuhn berikan hikmat d pengetahuan padaq,, untuk have the development of education…hehehe

  2. zara Says:

    makasih banget buat artikelnya .. sangat membantu saya .. tapi kalo boleh atu, macem2 phobia itu apa ya ? disini kan dijelasin cuma garis besarnya aja .. makasii

  3. efeb Says:

    thanks bray artikel nya .. sangat membantu dalam penyelesaian tugas saya

  4. Anonim Says:

    maaf, ini sumbernya apa ya mbak?

  5. Nafilah Says:

    referensinya dari mana?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s