Algaer's Blog

Just another WordPress.com weblog

MENENGOK KEMBALI MADRASAH PESANTREN Mei 10, 2010

Filed under: Pendidikan Islam dan Madrasah — algaer @ 12:43 pm
Tags: , , ,

Oleh ARWANI

SKB 3 Menteri tahun 1975 (Menteri Agama, Menteri Pendidikan dan Menteri Dalam Negeri) bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan madrasah agar tingkat mata pelajaran umum di madrasah sama dengan tingkat mata pelajaran umum di sekolah umum. SKB itu menetapkan tiga hal penting; (1) Ijazah madrasah mempunyai nilai yang sama dengan ijazah dari sekolah umum setingkat, (2) Lulusan madrasah dapat melanjutkan ke jenjang sekolah umum jenjang atasnya, dan (3) siswa madrasah dapat berpindah ke sekolah umum.

Untuk mencapai tingkat standar mata pelajaran umum seperti yang ada di sekolah umum, pelajaran umum di madrasah disamakan dengan yang diajarkan di sekolah umum. Proporsi pelajaran di madrasah dirubah menjadi 70% untuk pelajaran umum dan 30% untuk mata pelajaran agama. Sebagai implementasi dari SKB 3 Menteri tahun 1975 tersebut, pemerintah kemudian memberlakukan kurikulum madrasah tahun 1976 dan juga mendirikan Madrasah Negeri di berbagai tempat.

Terhadap perubahan ini, tidak semua masyarakat Muslim, khususnya dari kalangan Muslim tradisionalis, menyambut dengan gembira. Kalangan Muslim tradisionalis, pada waktu itu masih memandang madrasah semata-mata sebagai lembaga pendidikan tempat mencari ilmu agama.

Zakiyah Daradjat dalam kata pengantarnya di buku Maksum (1999: xi) mencatat, ada dua pendapat menanggapi perkembangan madrasah saat itu. Pertama, kalangan yang menilainya sebagi tonggak penting integrasi madrasah ke dalam pendidikan nasional. Kedua, kalangan yang memandang perubahan itu sebagai sikap akomodatif yang berlebihan terhadap kecenderungan pendidikan modern yang sekuler, yang dikhawatirkan akan mencabut madrasah dari nilai-nilai keislaman dan melunturkan nilai-nilai keberagamaan siswa. Porsi pengetahuan umum yang semakin besar itu, dikhawatirkan akan menggeser pengetahuan agama yang menjadi spesialisasi madrasah sejak lama.

Oleh karenanya, madrasah-madrasah swasta waktu itu tidak serta merta mengikuti ketentuan pemerintah. Ada tarik-menarik yang terjadi di dunia madrasah antara menjadi lembaga pendidikan modern di satu sisi, dan mempertahankan perannya sebagai lembaga pendidikan keagamaan sebagaimana dilakukannya di masa lalu. Tarik-menarik itu kemudian memunculkan pergeseran dan penyesuaian yang dinamis.

Tarik menarik yang cukup hebat terjadi pada madrasah yang berasosiasi dengan pesantren atau, lebih singkatnya disebut Madrasah Pesantren. Madrasah ini didirikan dan dikelola oleh suatu pesantren sebagai ekstensi dari sistem pendidikan pesantren. Munculnya madrasah semacam ini, menurut Manfred Ziemek (1986: 104-108) merupakan bagian dari perkembangan pesantren yang berawal dari pengajian sederhana di masjid. Lalu karena ada santri yang berasal dari jauh, dibangunlah pondokan. Perkembangan selanjutnya, didirikanlah madrasah. Pesantren-pesantren tertentu kemudian ada yang sampai mendirikan universitas.

Karel A. Steenbrink (1994: 220) mencatat, berdirinya madrasah di lingkungan pesantren, tidak serta merta menghapus tradisi pesantren. Justru tradisi-tradisi keilmuan, keagamaan dan kepemimpinanannya mengadopsi pola  pesantren. Dalam tradisi keilmuan, sebagai contoh, Madrasah Pesantren mengajarkan kitab kuning dengan berbagai metode khas pesantrennya. Sehingga madrasah pesantren ini sebenarnya merupakan klassikalisasi dari pesantren.  Orientasi awal dari madrasah ini adalah sebagai lembaga pendidikan keagamaan. Maka wajar saja jika mata pelajarannya adalah mata pelajaran agama sebagaimana pesantren.

Pemerintah mengambil kebijakan dengan hanya mengakui madrasah yang menggunakan kurikulum pemerintah. Pengakuan ini berimplikasi pada kesempatan siswanya untuk mengikuti Ujian Negara, bantuan guru-guru negeri dan bantuan keuangan untuk merehabilitasi gedung. Hanya madrasah yang mengikuti Kurikulum Negara yang akan mendapatkan kesempatan dan bantuan seperti ini. Kebijakan ini ternyata membawa dampak yang cukup luas. Banyak madrasah swasta yang kemudian mengikuti Kurikulum Negara, akan tetapi tidak selalu persis sama.

Dalam konteks ini, menurut Maksum (Ibid: 5) madrasah yang ada bervariasi dari madrasah “batas minimal” sampai madrasah “batas maksimal”. Madrasah “batas minimal” adalah madrasah yang menerapkan apa adanya Kurikulum Negara yang memuat 70% pelajaran umum dan 30% pelajaran agama. Yang termasuk madrasah jenis ini adalah Madrasah Negeri (minus MAK) atau madrasah swasta yang mengikuti apa adanya Kurikulum Negara.

Sedangkan madrasah “batas maksimal” adalah madrasah-madrasah pesantren yang menolak Kurikulum Negara dan memakai kurikulum sendiri yang 100%  materinya adalah mata pelajaran agama. Madrasah ini memang tidak mau mengubah orientasinya sebagai lembaga pendidikan “murni” keagamaan, yang hanya mengajarkan materi-materi keagamaan dengan sumber utama kitab kuning. Sejak awal mereka tidak ingin mengikuti Ujian Negara dan tidak mengharap bantuan guru dan keuangan dari pemerintah.

Madrasah Pesantren sebagian besar menerima  dan mengimplementasikan Kurikulum Negara sebagaimana Madrasah Negeri, akan tetapi Madrasah ini tetap mempertahankan Kurikulum Lokal Pesantren dengan materi utama kitab kuning berbahasa Arab. Alasan pokok mempertahankan Kurikulum Lokal itu adalah, kekhawatiran akan menurunnya kualitas ilmu agama siswa jika hanya mengajarkan materi pelajaran agama dari Depag saja. Dengan penambahan materi ilmu agama dari kitab kuning diyakini akan semakin menambah kemampuan ilmu agama siswa sekaligus mengasah kemampuan Bahasa Arab, berhubung kitab kuning itu berbahasa Arab.

Hampir semua Madrasah Pesantren yang cukup berpengaruh dan mempunyai nama besar di Pesisir Utara Jateng dan di seluruh Jatim, menganut pola semacam ini. Pola yang sama juga dianut oleh Madrasah Swasta yang bukan milik pesantren di kawasan ini yang sebagian besar mempunyai keterikatan kultural dengan pesantren  karena pengelolanya rata-rata alumnus pesantren.

Di Jawa Tengah seperti di Rembang, Lasem, Pati, Kudus, Demak, Kendal, dan Pekalongan serta sebagian besar Pesantren Jawa Timur, pola yang diikuti adalah dengan membuka jurusan sebagaimana Madrasah Negeri semisal jurusan IPS atau IPA, lantas ditambah dengan materi Kitab Kuning.

Pola yang agak berbeda bisa ditemukan di Pesantren Tambak Beras Jombang, Pesantren Tebu Ireng Jombang dan Pesantren Blok Agung Banyuwangi. Pesantren Tambak Beras membuka dua alternatif madrasah. Jenis pertama adalah Madrasah Negeri (MTsN/MAN) dengan kurikulum Negara yang ditambah sedikit dengan kitab kuning. Dan jenis kedua adalah Madrasah Mu’allimin/Mu’allimat dengan alokasi waktu yang cukup bunyak untuk mata pelajaran agama berupa kitab kuning. Siswa madrasah jenis kedua tidak perlu khawatir dengan Ijasah Negara, karena dalam ujian Negara  mereka diikutkan sebagai siswa MAN jurusan IPS.

Pesantren Tebu Ireng Jombang membuka MAK, MA-IPS, dan MA-IPA yang memakai Kurikulum Negara ditambah sedikit kitab kuning, dan “MA Salaf”, yang secara formal dimasukkan program IPS akan tetapi mata pelajarannya banyak terdiri dari muatan lokal berupa kitab kuning. Untuk MAK dan “MA Salaf” rekruitmen siswanya melewati seleksi yang ketat. Ada tes bahasa Arab, Bahasa Inggris dan membaca kitab gundul. Lulusan “MA Salaf” diorientasikan mampu membaca dan menguasai kitab kuning sehingga mampu meneruskan tradisi keulamaan tradisional.

Pesantren Blok Agung Banyuwangi mengambil cara yang berbeda. Pengajaran dilakukan pada pagi hari dan pada siang sampai sore hari. Pada pagi hari menggunakan Kurikulum Negara, Sedang pada siang sampai sore hari para siswa mendapatkan materi Kurikulum Lokal berupa kitab kuning.

Tentu saja, siswa yang ingin memasuki Madrasah Pesantren harus sudah mempunyai kemampuan mengenai bahasa Arab dan kitab kuning. Anak yang berasal dari sekolah umum (SD-SMP), dari Madrasah Negeri atau dari madrasah yang tidak mengajarkan kitab kuning, akan kesulitan untuk mengikuti pelajaran jika masuk di Madrasah Pesantren. Maka, Madrasah Pesantren menyediakan sekolah persiapan (I’dad) berupa Madrasah Diniyah selama satu atau dua tahun. Di sekolah persiapan ini para calon siswa digembleng dengan pelajaran agama dan kitab kuning. Baik siswa maupun orangtuanya dari awal sudah menyadari bahwa masa sekolah mereka akan molor satu atau dua tahun.

Madrasah pesantren dengan kreativitas kurikulum sebagaimana di atas, sampai sekarang masih bertahan dan cukup mendapatkan peminat. Bahkan di daerah yang cukup kental keagamaannya, madrasah seperti ini lebih diminati dibanding Madarsah Negeri, karena dianggap memberikan ilmu agama yang lebih baik.

Secara akademis, Madrasah Pesantren menjadi feeder institution yang cukup baik bagi IAIN, yang mensuplai input dengan kemampuan yang mencukupi dalam Bahasa Arab dan Ilmu Agama.  Sementara input dari MAN (non-MAK) rata-rata kurang baik dalam Bahasa Arab dan Ilmu Agama. Begitu pula dalam pergulatan pemikiran keislaman baik semasa di bangku kuliah maupun selepas lulus dari IAIN, lulusan Madrasah Pesantren lebih dominan dibanding Madrasah Negeri.

Karena di bidang pelajaran agama output dan outcome madrasah pesantren relatif lebih baik, sudah selayaknya depag mengapresiasi dan mengakuinya sebagai satu realitas tersendiri dari keragaman madrasah. Tidak ada salahnya Depag menjadikan Madrasah Pesantren ini sebagai satu varian pengembangan Madrasah.

 

2 Responses to “MENENGOK KEMBALI MADRASAH PESANTREN”

  1. aqil Says:

    trima kasih info dan pembahasannya.. tai sy nyari draf format Peraturannya, ada gak yah…?

  2. Anonim Says:

    makasih aku minta filenya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s