Algaer's Blog

Just another WordPress.com weblog

PARADIGMA KEILMUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI April 13, 2010

Filed under: Resensi Buku — algaer @ 10:51 am
Tags: , ,

Oleh ARWANI

(Pernah dimuat di Harian Republika, 28 Desember 2003)

Judul Buku : Menyatukan Kembali Ilmu-Ilmu Agama dan Umum: Upaya mempertemukan Epistemologi Islam dan Umum.

Penulis : Amin Abdullah, dkk.

Penerbit : SUKA Press, Yogjakarta

Edisi : Pertama, 2003

Tebal : xvi + 215 hlm

Harga: —

Pak Fulan adalah seseorang yang ingin masuk Islam secara “kaffah.” Ia merasa sudah melakukan Islamisasi terhadap semua yang ada dalam kehidupan dirinya. Hanya satu yang belum. Mobil Kijangnya! Ia berpikir sejenak, lalu tersenyum karena mendapat ide. Ia masuk ke garasi, mengambil gergaji dan memotong kanlpot mobil itu. Ketika ditanya istrinya tentang apa yang ia lakukan, Pak Fulan dengan santai menjawab bahwa ia sedang menyunat (khitan) mobilnya.

Cerita dari Bakdi Sumanto di atas, yang diangkat Kuntowijoyo dalam tulisannya di buku ini, merupakan sindiran terhadap islamisasi yang seringkali hanya dimaknai dan berhenti pada wilayah simbol, serta sama sekali belum menyentuh wilayah substansial.

Salah satu bentuk simplifikasi itu, dalam bidang pendidikan adalah keberadaan berbagai Universitas Islam, atau Universitas yang dikelola oleh lembaga Islam seperti Universitas Islam Negeri (Jakarta), Universitas Islam Indonesia (Yogjakarta), Universitas Islam Malang, Universitas Muhammadiyah (di berbagai kota), Universitas Darul Ulum (Jombang), dan sebagainya.

Di berbagai Universitas itu, ciri keislamaan seakan ditentukan hanya oleh keberadaan Fakultas Agama Islam, sehingga secara anekdotal sering dilontarkan bahwa mereka mempertahankan Fakultas Agama hanya agar mendapat legitimasi untuk menyebut diri sebagai Universitas Islam.

Di “Universitas Islam” tersebut, pola hubungan keilmuan antara fakultas agama dan fakultas “non-agama”, serta struktur ilmu (sains) yang dipelajari, masih mencerminkan pandangan yang dichotomik dan sekular. Yang mereka lakukan selama ini, sebatas menyandingkan fakultas agama dengan fakultas “non-agama” atau antara “ilmu agama” dan “ilmu non-agama/umum”, sehingga tidak ditemukan ciri khas paradigma Islam yang membedakan antara ilmu yang dipelajari di Universitas tersebut dan Universitas lain yang tidak mengklaim sebagai Universitas Islam.

IAIN Yogjakarta, yang akan menyusul IAIN Jakarta menjadi Universitas Islam Negeri (UIN), agaknya tidak mau terjebak pada kondisi yang sama. Untuk mengiringi perubahan itu, IAIN Yogjakarta berupaya membangun landasan paradigmatik UIN. Buku ini merupakan kumpulan tulisan para Intelektual seperti Amin Abdullah, Mulyadi Kartanegara, Kuntowijoyo, Abdul Munir Mulkhan, Umar Anggara Jenie, Mohtar Na’im, dll., dalam rangka proses pencarian itu.

Ada dua permasalahan dasar yang ingin dibidik buku ini. Pertama, mencari paradigma ilmu alternatif selain paradigma dikhotomistik, dan kedua mencari kemungkinan reintegrasi epistemologi yang menjadi dasar perumusan ilmu yang khas Universitas Islam.

Konsep dikhotomi ilmu harus ditinggalkan karena bersifat sekular. Konsep itu merupakan hasil diferensiasi dan autonomisasi ilmu dari agama pada masa-masa aufklarung di barat. Akibatnya ilmu menjadi terasing, tak terkontrol dan kering dari nilai-nilai agama. Di sisi lain, ilmu menjadi tidak populer untuk dipakai sebagai pendekatan dalam memahami agama. Bentuk turunannya adalah terpisahnya “ilmu umum” dan “ilmu agama.”

Menurut Mulyadhi Kartanegara (hal. 21-29), konsep yang seharusnya dikembangkan oleh UIN adalah konsep hierarki ilmu yang tidak memisahkan antara ilmu (sains) dan agama atau antara “ilmu umum’ dan “ilmu agama.” Konsep ini justru memandang ilmu sebagai suatu kesatuan hierarkis yang pembentukannya didasarkan pada hierarki ontologi, hierarki epistemologi dan hierarki tujuan mempelajarinya. Secara ontologik, misalnya, hirarki ilmu tidak saja mengakui obyek yang rasionable dan observable tapi juga obyek metafisik-transendental. Demikian juga, secara epistemologik tidak hanya mengakui metode bayani dan burhani tapi juga metode kasyfi.

Dengan konsep di atas, paradigma ilmu UIN adalah paradigma integralistik yang melakukan dediferensiasi dan deautonomisasi ilmu dan agama, dengan apa yang oleh Amin Abdullah disebut sebagai reintegrasi epistemologi. Konsep reintegrasi epistmologi ini kemudian dikembangkan oleh Amin dalam skema “Horizon jaring laba-laba keilmuan teo-antroposentrik-integralistik Universitas Islam Negeri” (hal. 3-20).

Dengan konsep seperti itu, paling tidak ada tiga jenis keilmuan paradigma integralistik yang berkemungkinan dikembangkan dan mejadi keunikan UIN. Pertama, ilmu-ilmu agama. Pengembangannya bisa dilakukan dengan lebih intens menggunakan pendekatan ilmu-ilmu sosial dan humaniora seperti antropologi, sosiologi, psikologi, dan filsafat dengan berbagai teori dan pendekatan yang ditawarkan, seperti yang telah dilakukan oleh M. Arkoun atau Al-Jabiri.

Kedua, ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Kemungkinan pengembangannya terbuka lebar karena, menurut Thomas Kuhn, ilmu yang ada saat ini dibangun di atas landasan paradigma-paradigma tertentu. Misal paradigma behavioristik, paradigma positivistik, paradigma Marxis, paradigma kritis dan sebagainya. Dengan demikian, terbuka kemungkinan mengembangkan paradigma alternatif seperti paradigma integralistik (Islam) (hal. 59-72). Satu contoh menarik adalah pengembangan Ekonomi Syari’ah.

Ketiga, ilmu-ilmu alam atau natural science baik ilmu murni (pure science) seperti biologi, kimia, fisika dan astronomi, maupun ilmu terapan (applied science) seperti kedokteran, farmasi, pertanian, dan lain-lain. Dulu, ilmu ini mengklaim diri sebagai ilmu netral yang tidak memerlukan etika dan moral. Akan tetapi dalam perkembangannya, ilmu alam ini tidak mampu menjawab persoalan-persoalannya sendiri (hal. 93-115)

Contohnya, setelah muncul revolusi molukelar yang memungkinkan penerapannya dalam teknologi trans-genik, rekaya genetika dan kloning, maka pertimbangan etik-moral menjadi mengemuka. Amerika serikat sudah meresponnya dengan membuat bioetika (bioethic) sebagai rambu-rambu penelitian biologi modern. Dalam konteks inilah paradigma integralistik bisa berperan menyatukan ilmu alam dengan landasan etik moral Islam yang akan memberi manfaat bagi seluruh alam ini.

Pertanyaan besar bagi para pelaku perubahan IAIN menjadi UIN adalah, apakah ilmu-ilmu dengan paradigma integralistik semacam di atas sudah dirumuskan dan siap diajarkan ketika UIN berdiri, berikut buku-buku teks dan tenaga pengajarnya? Jawaban dari pertanyaan ini merupakan cermin, apakah berdirinya UIN tergolong sebagai Islamisasi yang bersifat substansial, atau justru Islamisasi simbolis seperti yang terjadi pada Bapak Fulan dengan mobil Kijangnya di atas.

 

3 Responses to “PARADIGMA KEILMUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI”

  1. Gatro Says:

    Bukuku diresensi jg dong… hehe…

  2. Aziz Akbar Says:

    ILMU AGAMA DAN ILMU UMUM SEMUANYA MILIK ALLAAH UNTUK KESEMPURNAAN MANUSIA, MAKA DARI ITU KENALILAH ALLAAH SECARA KAAFFAH DENGAN MENDALAMI ISLAM SECARA KAAFFAH NISCAYA AKAN BAHAGIA, SELAMAT DAN KEKAL SELAMANYA BERSAMA DENGAN KEKEKALANNYA, AAMIIIN WASALAM.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s