Algaer's Blog

Just another WordPress.com weblog

PEREMPUAN DAN PENDIDIKAN April 8, 2010

Filed under: Gender — algaer @ 6:18 am
Tags: , ,

Oleh ARWANI

“Ngapain perempuan sekolah tinggi-tinggi. Toh ujung-ujungnya berada di seputar dapur, sumur dan kasur.” Demikian ungkapan yang menggambarkan bahwa kesempatan mendapatkan pendidikan bagi kaum perempuan berkaitan erat dengan citra perempuan. Karena perempuan dianggap sebagai makhluk yang secara “kodrati” harus berada di rumah (wilayah dapur sebagai tukang masak; wilayah sumur sebagai tukang cuci; wilayah kasur sebagai pelayan suami) pendidikan bagi perempuan dianggap tidak sepenting bagi laki-laki. Maka, ketika orang tua hanya mempunyai biaya pendidikan bagi satu orang anak saja, sementara yang Aktivitas perempuan di dapurbutuh sekolah dua orang anaknya, masing-masing laki-laki dan perempuan, bisa dipastikan, anak perempuan harus memberi kesempatan kepada anak laki-laki.

Oleh karena itu, berbicara tentang pendidikan bagi perempuan tidak bisa dipisahkan dari berbicara tentang perempuan itu sendiri. Berkaitan dengan masalah ini, ada tiga hal yang perlu dibicarakan. Pertama, apakah perempuan itu kodratnya memang di rumah. Kedua, apakah kalau perempuan memilih berada di rumah dia tidak perlu pendidikan? Ketiga, bagaimana dengan mitos bahwa perempuan itu secara kodrati kalah cerdas dengan laki-laki?

Peran Publik Perempuan

Kalau ada pemuda bujang sedang menyapu, mencuci pakaian atau sekedar memasak mie instan, pasti banyak yang menggojlok begini: “mbok cepet cari pendamping biar nggak perlu nyapu, nyuci atau masak sendiri.” Gojlokan di atas merupakan cerminan konstruksi sosial tentang peran perempuan. Perempuan dipandang mempunyai “kodrat” berada di rumah saja untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan rumahan. Istri tak lebih dari tukang sapu, tukang cuci atau tukang masak. Karenanya ngapain sekolah tinggi-tinggi.

Tapi benarkah kodrat perempuan itu di rumah? Kodrat adalah sesuatu yang inheren dalam diri seseorang, yang dibawa sejak lahir dan memang ketentuan dari Tuhan serta tidak bisa dipertukarkan. Misal perempuan mengandung, melahirkan atau menyusui. Peran-peran itu memang kodrat perempuan, karenanya tidak bisa dipertukarkan dengan laki-laki. Tapi benarkah menyapu, mencuci dan memasak itu memang kodrat perempuan? Toh peran itu bisa dipertukarkan. Nyatanya banyak laki-laki bisa melakukannya. Banyak kepala juru masak di hotel-hotel berbintang, tukang sapu, tukang kebun, karyawan jasa cleaning service, dan room boy adalah laki-laki.

Sesungguhnya pembagian peran antara laki-laki dan perempuan bukanlah kodrat, melainkan hanya konstruksi sosial saja. Konstruksi sosial ini merupakan bangunan tatanan nilai dan norma sosial yang dibuat oleh masyarakat. Karenanya bisa berbeda antara satu tempat dengan tempat lain, dan bisa berubah oleh zaman. Misal, di Arab Saudi dan beberapa negara Arab lainnya, perempuan dilarang mengemudkan mobil sendiri. Tapi di Indonesia perempuan boleh-boleh saja mengemudi. Dulu pada zaman Kartini (Jepara-Rembang) dan Rahmah El-Yunusiyah (Padang Panjang, Sumbar), perempuan dipandang sebagai makhluk yang “dikodratkan” untuk tidak sekolah. Kartini dan Rahmah melihatnya sebagai ketidakadilan. Kartini hanya sempat mengeluhkannya dengan sahabat penanya di Belanda. Sedangkan Rahmah langsung bikin sekolah khusus perempuan yang masih berdiri sampai sekarang.

Saat ini akan sangat aneh kalau ada orang yang melarang anak perempuannya sekolah. Masalahnya adalah, banyak konstruksi sosial yang tidak adil terhadap perempuan. Contohnya adalah pembagian wilayah peran atau kerja. Walaupun konstruksi sosial perlahan mulai bergeser, wilayah publik masih dipandang sebagai milik laki-laki. Ada beberapa keberatan yang sering diajukan untuk membela status quo laki-laki ini. Misalnya bahwa ruang publik merupakan dunia yang keras, dunia laki-laki. Sedang perempuan adalah makhluk lemah yang rawan terhadap kejahatan dan juga pelecehan seksual. Di pabrik-pabrik, di kantor, di bis bahkan di rumah-rumah keluarga terhormat, juga yang bekerja di luar negeri (TKW), pekerja perempuan rawan terhadap kejahatan dan pelecehan seksual.

Tetapi adilkah jika perempuan yang nota bene menjadi korban, justru ia yang harus dikurangi haknya dengan melarangnya keluar rumah? Solusi yang adil tentu saja adalah dengan terus menerus mengupayakan perlindungan hukum sehingga dunia ini menjadi ramah dan aman bagi perempuan yang bekerja di luar rumah. Keberatan lainnya adalah, kalau perempuan bekerja di luar, siapa yang melakukan pekerjaan di rumah? Keberatan ini harus kita pertanyakan. Benarkah pekerjaan di rumah itu kewajiban perempuan saja. Apakah laki-laki sama sekali tidak mempunyai tangung jawab terhadap pekerjaan di rumah. Sehingga seorang istri yang bekerja di luar rumah, ia juga harus mengerjakan seluruh pekerjaan di rumah. Terjadilah apa yang disebut dengan peran ganda perempuan yang justru menambah berat beban perempuan.

Kalau kita kembali pada konsep kodrat di atas, maka sesungguhnya laki-laki tidak ditabukan untuk melakukan pekerjaan di rumah. Kalau memang suami dan istri sama-sama bekerja di luar rumah, maka pekerjaan di rumah harus dilakukan bersama. Kalau istri sibuk memasak, apa salahnya suami menyapu. Kalau istri sibuk mencuci, apa salahnya Laki-laki bisa momong juga, kan?suami mencurahkan rasa cintanya dengan memandikan sang anak. Apabila sang istri sedang lelah, apa salahnya jika sang suami mengurangi kemanjaannya dengan membuat teh hangat sendiri. Rasanya dunia lebih adil dan mungkin lebih romantis dengan pola-pola seperti itu.

Keberatan lain bagi yang menolak peran perempuan di luar rumah adalah berkaitan dengan pengasuhan anak. Kalau ibu aktif di luar rumah, siapa yang mengasuh anak? Mengasuh anak sebenarnya bukan hanya tanggungjawab perempuan saja melainkan tangungjawab berdua; ibu juga bapaknya. Anak adalah ”karya” dan kehendak berdua, juga amanah dari Tuhan terhadap keduanya. Ketika suami istri aktif di luar rumah, baik suami maupun istri punya kewajiban yang sama atas pengasuhan anaknya. Apalagi ketika kebetulan sang istri sedang di luar rumah sementara suami di rumah. Sang suamilah yang harus bertanggungjawab untuk melakukan tugas-tugas kepengasuhan seperti momong, nyeboki, memandikan, menyuapi dan sebagainya. Dengan begitu tidak ada lagi anak tertelantarkan gara-gara sang ibu bekerja di luar rumah. Dengan begitu dalam konstruksi sosial (baca: relasi gender) yang adil, perempuan mempunyai hak dan peluang yang sama untuk memasuki wilayah publik. Karenanya perempuan juga harus mempunyai kesiapan dalam pendidikan untuk bekal berkompetisi di wilayah publik tersebut.

Menjadi Ibu yang Berwawasan

Aktif dan bekerja di luar rumah, bagi perempuan adalah sesuatu yang bersifat bebas pilih. Berdasarkan kesepakatan dengan suami, perempuan bebas memilih untuk aktif di luar rumah atau memilih menjadi “Ibu rumah tangga” yang melakukan tugas-tugas domestik. Pertanyaan yang perlu dikedepankan adalah, jika perempuan memilih untuk di rumah saja, apakah ia perlu meraih pendidikan setinggi-tingginya? Lantas, untuk apa pendidikan yang tinggi kalau ia hanya di rumah saja? Untuk menjawabnya barangkali kita bisa meminjam perspektif pendidikan.

Pendidikan mengenal tiga lingkungan pendidikan. Lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan masyarakat. Sekolah bukanlah pendidikan utama. Ia hanya bersifat membantu melakukan apa yang tidak sempat dan tidak bisa dilakukan oleh orang tua. Begitu juga masyarakat, yang juga bersifat membantu anak dalam melakukan sosialisasi. Pendidikan yang utama tidak lain adalah pendidikan dalam keluarga. Keluarga merupakan basis bagi terbentuknya karakter, mentalitas, moralitas, spiritualitas dan inteketualitas anak. Dengan begitu, orang tua, bapak dan ibu adalah pendidik utama anak-anaknya. Merekalah peletak dasar segala sesuatu dalam diri sang anak.

Jika perempuan memilih untuk menjadi ibu rumah tangga, maka dialah yang akan banyak bergaul dengan anaknya. Dialah yang akan banyak mewarnai anaknya. Maka untuk membentuk anak yang berkualitas, tentunya membutuhkan seorang ibu yang terdidik, cerdas, berwawasan luas, berkualitas, yang tahu apa saja yang patut dan tidak patut dilakukan dalam pengembangan anaknya, baik pengembangan fisik maupun non-fisik. Ibu yang seperti inilah yang benar-benar membawa surga di bawah telapak kakinya, yang lebih menjamin tumbuhnya generasi bangsa yang kuat dan cerdas serta siap menghadapi zaman global. Seperti kata pepatah Arab bahwa perempuan (ibu) adalah tiang negara. Jika tiangnya kuat, maka kuatlah negara itu. Jika perempuan-perempuan di suatu negeri mempunyai tingkat pendidikan yang cukup, maka akan lebih menjamin munculnya generasi penerus yang berkualitas.

Mitos Kecerdasan

Dalam dunia pendidikan yang juga perlu dipertanyakan adalah mitos kecerdasan laki-laki. Laki-laki diangggap lebih cerdas dan lebih rasional. Perempuan dipandang kalah cerdas dan lebih emosional. Pendapat seperti ini didukung oleh fakta bahwa sebagian besar pakar di berbagai bidang, sebagian besar profesor dan doktor adalah laki-laki. Benarkah pendapat seperti itu? Memang benar bahwa sebagian besar orang-orang pintar saat ini adalah laki-laki. Tapi hal ini tidak berarti karena laki-laki lebih cerdas. Ada masalah lain, yaitu kesempatan. Selama ini laki-laki lebih berkesempatan untuk mencapai pendidikan yang tinggi.

Laki-laki juga lebih diberi kesempatan menduduki jabatan-jabatan publik. Kenyataan tentang dominasi laki-laki di segala bidang bukanlah cermin dari keunggulan kecerdasan laki-laki, tetapi lebih sebagai cermin diskriminasi atau ketidakadilan tatanan sosial yang lebih memberikan kesempatan kepada laki-laki. Dalam iklim yang lebih adil, kita bisa mendapatkan fakta bahwa saat ini di sekolah-sekolah, prestasi siswa perempuan tidak kalah dengan siswa laki-laki. Bahkan ada kecenderungan, rangking teratas di kelas atau lulusan terbaik di setiap jenjang sekolah dan perguruan tinggi didominasi oleh perempuan.

Lalu ada yang tidak bisa menerima. Perempuan tetap dipandang kalah cerdas tapi dia menang dalam ketekunan, kesabaran dan kecermatan. Sesungguhnya sifat-sifat seperti itu tidak seratus persen nurture (alami) melainkan culture (pembudayaan). Dalam tatanan sosial patriarkhal perempuan terbentuk untuk menjadi lebih tekun, sabar dan cermat. Masalahnya adalah, kalau nyatanya perempuan seperti itu, mengapa tidak dianggap sebagai kelebihan perempuan dan sekaligus kekurangan laki-laki? Ketekunan, kesabaran, kecermatan dan sisi-sisi emosionalitas lain adalah sesuatu yang penting dalam hidup. Hasil studi paling akhir semakin membuktikan, aspek emosionalitas mempunyai kontribusi besar bagi kesuksesan hidup seseorang. Orang pun kini tidak lagi hanya mendewa-dewakan intelligence quotient (IQ), karena semakin menyadari perlunya pengembangan emotional quotient (EQ) dalam diri manusia. So, tidak ada lagi alasan yang bersifat “kodrati” bagi perempuan untuk kalah berprestasi dalam pendidikan dengan laki-laki. Karena perempuan mempunyai potensi kecerdasan yang sama dengan laki-laki ditambah kelebihan dalam emotional quotient.

 

One Response to “PEREMPUAN DAN PENDIDIKAN”

  1. ummi.zulfa Says:

    bagaimana kalo seorang perempuan bekerja, sedangkan suaminya ga di rumah, tanpa ada pendamping keluarga???

    hehe.., tapi perempuan kan juga bisa jadi pemimpin, ga beda dengan laki-laki


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s