Algaer's Blog

Just another WordPress.com weblog

KURIKULUM YANG TIDAK TUNGGAL April 7, 2010

Filed under: Kurikulum dan Pendidikan — algaer @ 3:35 pm
Tags: ,

Oleh ARWANI

(pernah dimuat di rubrik Didaktika Harian Kompas, Senin 11 Maret 2002)

KURIKULUM dipandang sebagai elemen vital dalam sistem pendidikan. Karena itu, dalam setiap upaya perbaikan mutu pendidikan selalu tidak terlepas dari perubahan kurikulum.

Sayangnya, dari semua gagasan dan upaya perubahan itu, ada satu hal yang
tidak pernah berubah, yakni asumsi bahwa anak didik mempunyai kemampuan yang sama. Indikasinya adalah kurikulum yang digagas tetap bersifat tunggal. Anak yang pintar maupun yang tidak pintar harus mempelajari hal yang sama. Padahal, kemampuan anak jelas berbeda antara satu dan yang lain. Seharusnya, dalam upaya pembaruan kurikulum saat ini, disediakan kurikulum dengan tingkat kesulitan yang berbeda antara anak pintar dengan anak yang tidak pintar.

Dalam banyak tulisannya, sejak dulu pakar sekaligus praktisi pendidikan J
Drost tidak pernah bosan mengingatkan bahwa di mana-mana di dunia ini,
termasuk di Indonesia, kemampuan anak tidaklah sama. Sekitar 30 persen
adalah anak pintar dengan kemampuan belajar yang jika dinilai adalah tujuh
ke atas. Sekitar 40-50 persen adalah anak berkemampuan belajar dengan nilai
6-7, dan sisanya, 20-30 persen adalah anak dengan kemampuan belajar enam ke bawah. Menurut dia, kurikulum sekolah di Indonesia saat ini hanya cocok bagi 30 persen anak yang pintar tadi.

Negara-negara Eropa dan Amerika menerapkan sistem pembedaan kurikulum
seperti itu. Sejak lulus SD sudah diketahui mana anak yang pintar dan mana
yang tidak pintar. Anak pintar, yang berjumlah sekitar 30 persen, masuk di
sekolah utama yang disebut Gymnasium di Jerman, VWO di Belanda, atau A-Level di Inggris. Kurikulum yang digunakan mempunyai bobot dan standar yang tinggi. Sekolah utama ini mempersiapkan para siswanya untuk masuk
universitas.

Selebihnya, sekitar 70 persen anak hanya boleh masuk di sekolah level B,
atau sekolah kejuruan. Kurikulumnya tidak seberat sekolah utama. Sementara
lulusannya tidak boleh masuk universitas melainkan di akademi atau
politeknik yang akan mendidik mereka menjadi profesional menengah di
berbagai bidang, seperti perikanan, pertanian, pelayaran, pertukangan, para
medis, dan lain-lain.

***

KURIKULUM yang digunakan di Indonesia saat ini adalah kurikulum yang
bobotnya sama dengan sekolah utama tadi. Maka, persoalan kita sebenarnya
adalah, kita tidak mempunyai kurikulum bagi sekitar 70 persen anak yang
tidak pintar, sebagaimana yang diterapkan di sekolah level B di
negara-negara di atas. Akibatnya, mereka harus mempelajari kurikulum yang
sebenarnya terlalu berat bagi mereka.

Para guru yang mengajar di kelas-kelas yang muridnya mempunyai kemampuan acak tentu akan mengalami sendiri, hanya 25-30 persen anak yang benar-benar mampu menyerap materi pelajaran dalam kurikulum sekarang. Sisanya tidak mampu dengan baik menyerap materi sehingga menjadi apatis, tertekan, dan stres. Hal-hal semacam ini justru bisa mengganggu semangat belajar dan merusak stabilitas emosional mereka. Selain itu, juga bisa menghambat kemajuan belajar anak-anak yang pintar.

Melihat persoalan di atas, maka kurikulumĀ  yang diterapkan di Indonesia seharusnya mempertimbangkan keragaman (ketidaktunggalan) kemampuan anak. Yang paling mendesak untuk segera diwujudkan adalah kurikulum bagi anak yang tidak pintar yang jumlahnya justru mayoritas.

Tentu saja kebijakan kurikulum semacam itu mempunyai implikasi di tingkat
kelembagaan. Harus ada sekolah utama dengan kurikulum tersendiri serta
sekolah level B dengan kurikulum yang berbeda. Hanya lulusan dari sekolah
utama ini saja yang berhak masuk universitas, sementara lulusan dari sekolah
level B masuk ke akademi atau politeknik.

***

SISTEM pendidikan seperti ini akan memberi beberapa keuntungan. Pertama,
proses pembelajaran dan pembuatan kebijakan bagi anak-anak pintar akan lebih efektif karena tidak perlu lagi mempertimbangkan anak-anak yang tidak
pintar, yang telah tertampung dalam sekolah level B.

Kedua, universitas akan mendapat in-put calon mahasiswa dengan tingkat
kemampuan yang lebih terjamin, karena hanya anak yang pintar lulusan sekolah utama saja yang boleh mendaftarkan diri.

Ketiga, anak-anak tidak pintar yang berjumlah 70 persen itu akan mendapatkan kurikulum yang sesuai dengan kemampuannya. Mereka tidak perlu lagi apatis, stres, dan tertekan oleh beratnya materi pelajaran. Selain itu, posisi mereka yang akan dididik sebagai profesional menengah juga sangat penting karena Indonesia saat ini sangat kekurangan tenaga kerja pada level profesional menengah tersebut, seperti tenaga di bidang pelayaran,
perikanan, pertanian, para medis, dan sebagainya. Kalau tidak mampu bersaing pada level profesional menengah ini, bisa jadi di era perdagangan bebas nanti bangsa kita akan kebanjiran tenaga kerja dari negara lain, seperti
dari Filipina dan Thailand.

 

3 Responses to “KURIKULUM YANG TIDAK TUNGGAL”

  1. Aat Hidayat Says:

    Yang bagus tulisannya, orangnya, atau vespanya ya? he… he… he….

  2. algaer Says:

    yang bagus kopyahnya, gan.

  3. ummi.zulfa Says:

    bukan,..rodanya yang bagus


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s