Algaer's Blog

Just another WordPress.com weblog

EVALUASI DALAM PENDIDIKAN ISLAM Mei 10, 2010

OLEH ARWANI

A. Pengertian

Perbincangan tentang evaluasi, tidak bisa dilepaskan dari tiga istilah; pengukuran, penilaian, evaluasi. Pengukuran dapat diartikan dengan kegiatan untuk mengukur sesuatu. Pada hakekatnya, kegiatan ini adalah membandingkan sesuatu dengan sesuatu yang lain[1]. Mengukur suhu badan seseorang dengan termometer, berarti membandingkan suhu badan itu dengan patokan ukuran suhu yang ada pada termometer tersebut. Mengukur jarak kota A dengan kota B, berarti membandingkan jarak kota A dan B dengan patokan ukuran meter atau kilometer. Pengukuran adalah proses kuantifikasi keadaan seseorang atau tempat kedalam angka. Karenanya, dapat dipahami bahwa pengukuran itu bersifat kuantitatif.

Maksud dilaksanakan pengukuran sebagaimana dikemukakan Anas Sudijono ada tiga macam yaitu : (1) pengukuran yang dilakukan bukan untuk menguji sesuatu seperti orang mengukur jarak dua buah kota, (2) pengukuran untuk menguji sesuatu seperti menguji daya tahan lampu pijar serta (3) pengukuran yang dilakukan untuk menilai. Pengukuran ini dilakukan dengan jalan menguji hal yang ingin dinilai seperti kemajuan belajar dan lain sebagainya[2].

Dalam dunia pendidikan, pengukuran adalah pengumpulan data melalui pengamatan empiris. Proses pengumpulan ini dilakukan untuk menaksir apa yang telah diperoleh siswa setelah mengikuti pelajaran selama waktu tertentu. Proses ini dapat dilakukan dengan mengamati kinerja mereka, mendengarkan apa yang mereka katakan serta mengumpulkan informasi yang sesuai dengan tujuan melalui apa yang telah dilakukan siswa.

Penilaian merupakan langkah lanjutan setelah dilakukan pengukuran. Informasi yang diperoleh dari hasil pengukuran selanjutnya dideskripsikan dan ditafsirkan. Menurut Djemari Mardapi penilaian adalah kegiatan menafsirkan atau mendeskripsikan hasil pengukuran[3]. Hasil pengukuran yang bersifat kuantitatif dari pengukuran, kemudian ditafsirkan dalam bentuk nilai.

Ada dua acuan yang dapat dipergunakan dalam melakukan penilaian yaitu acuan norma (norm-referenced) dan acuan kriteria (criterion-referenced).[4] Penggunaan acuan norma dilakukan untuk menyeleksi dan mengetahui dimana posisi seseorang terhadap kelompoknya. Misalnya jika seseorang mengikuti tes tertentu, maka hasil tes akan memberikan gambaran dimana posisinya jika dibandingkan dengan orang lain yang mengikuti tes tersebut. Adapun acuan kriteria dipergunakan untuk menentukan kelulusan seseorang dengan membandingkan hasil yang dicapai dengan kriteria/standar yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Acuan ini biasanya digunakan untuk menentukan kelulusan seseorang, misal dalam UN.

Pengukuran, penilaian dan evaluasi merupakan kegiatan yang bersifat hierarki. Artinya ketiga kegiatan tersebut dalam kaitannya dengan proses belajar mengajar tidak dapat dipisahkan satu sama lain dan dalam pelaksanaannya harus dilaksanakan secara berurutan.

Evaluasi Menurut Suharsimi Arikunto adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu, yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil keputusan[5]. Dalam bidang pendidikan, evaluasi merupakan proses yang sistematis tentang mengumpulkan, menganalisis dan menafsirkan informasi untuk menentukan sejauhmana sebuah tujuan telah dicapai.

B. Ruang Lingkup dan Jenis Evaluasi

Anas Sudijono membagi lingkup evaluasi dalam bidang pendidikan di sekolah menjadi tiga, yaitu: (1). Evaluasi mengenai program pengajaran, (2). Evaluasi mengenai proses pelaksanaan pengajaran, (3). Evaluasi mengenai hasil belajar[6]. Pembagian ini terasa sempit,  karena hanya melingkupi proses pembelajaran saja. Dalam konteks yang lebih luas A. Janan Asifuddin menilai bahwa evaluasi pendidikan mestinya tidak hanya berkutat pada masalah pengajaran saja. Menurutnya, evaluasi pendidikan juga harus mencakup masalah seperti tujuan pendidikan, metode, sarana, guru, dan lainnnya. Untuk itu, menurut Janan, dalam evaluasi pendidikan paling tidak dikenal tiga jenis evaluasi yaitu: (1). Evaluasi pendidikan, (2). Evaluasi hasil belajar, dan (3). Evaluasi kurikulum[7].

C. Sasaran Evaluasi

Yang dimaksud dengan sasaran evaluasi pendidikan ialah segala sesuatu yang dijadikan titik pusat perhatian/pengamatan. Salah satu cara untuk mengetahui objek dari evaluasi pendidikan adalah dengan jalan menyorotinya dari tiga aspek, yaitu input, transformasi, dan output[8].

(more…)

 

MENENGOK KEMBALI MADRASAH PESANTREN

Filed under: Pendidikan Islam dan Madrasah — algaer @ 12:43 pm
Tags: , , ,

Oleh ARWANI

SKB 3 Menteri tahun 1975 (Menteri Agama, Menteri Pendidikan dan Menteri Dalam Negeri) bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan madrasah agar tingkat mata pelajaran umum di madrasah sama dengan tingkat mata pelajaran umum di sekolah umum. SKB itu menetapkan tiga hal penting; (1) Ijazah madrasah mempunyai nilai yang sama dengan ijazah dari sekolah umum setingkat, (2) Lulusan madrasah dapat melanjutkan ke jenjang sekolah umum jenjang atasnya, dan (3) siswa madrasah dapat berpindah ke sekolah umum.

Untuk mencapai tingkat standar mata pelajaran umum seperti yang ada di sekolah umum, pelajaran umum di madrasah disamakan dengan yang diajarkan di sekolah umum. Proporsi pelajaran di madrasah dirubah menjadi 70% untuk pelajaran umum dan 30% untuk mata pelajaran agama. Sebagai implementasi dari SKB 3 Menteri tahun 1975 tersebut, pemerintah kemudian memberlakukan kurikulum madrasah tahun 1976 dan juga mendirikan Madrasah Negeri di berbagai tempat.

Terhadap perubahan ini, tidak semua masyarakat Muslim, khususnya dari kalangan Muslim tradisionalis, menyambut dengan gembira. Kalangan Muslim tradisionalis, pada waktu itu masih memandang madrasah semata-mata sebagai lembaga pendidikan tempat mencari ilmu agama.

Zakiyah Daradjat dalam kata pengantarnya di buku Maksum (1999: xi) mencatat, ada dua pendapat menanggapi perkembangan madrasah saat itu. Pertama, kalangan yang menilainya sebagi tonggak penting integrasi madrasah ke dalam pendidikan nasional. Kedua, kalangan yang memandang perubahan itu sebagai sikap akomodatif yang berlebihan terhadap kecenderungan pendidikan modern yang sekuler, yang dikhawatirkan akan mencabut madrasah dari nilai-nilai keislaman dan melunturkan nilai-nilai keberagamaan siswa. Porsi pengetahuan umum yang semakin besar itu, dikhawatirkan akan menggeser pengetahuan agama yang menjadi spesialisasi madrasah sejak lama.

Oleh karenanya, madrasah-madrasah swasta waktu itu tidak serta merta mengikuti ketentuan pemerintah. Ada tarik-menarik yang terjadi di dunia madrasah antara menjadi lembaga pendidikan modern di satu sisi, dan mempertahankan perannya sebagai lembaga pendidikan keagamaan sebagaimana dilakukannya di masa lalu. Tarik-menarik itu kemudian memunculkan pergeseran dan penyesuaian yang dinamis.

Tarik menarik yang cukup hebat terjadi pada madrasah yang berasosiasi dengan pesantren atau, lebih singkatnya disebut Madrasah Pesantren. Madrasah ini didirikan dan dikelola oleh suatu pesantren sebagai ekstensi dari sistem pendidikan pesantren. Munculnya madrasah semacam ini, menurut Manfred Ziemek (1986: 104-108) merupakan bagian dari perkembangan pesantren yang berawal dari pengajian sederhana di masjid. Lalu karena ada santri yang berasal dari jauh, dibangunlah pondokan. Perkembangan selanjutnya, didirikanlah madrasah. Pesantren-pesantren tertentu kemudian ada yang sampai mendirikan universitas.

Karel A. Steenbrink (1994: 220) mencatat, berdirinya madrasah di lingkungan pesantren, tidak serta merta menghapus tradisi pesantren. Justru tradisi-tradisi keilmuan, keagamaan dan kepemimpinanannya mengadopsi pola  pesantren. Dalam tradisi keilmuan, sebagai contoh, Madrasah Pesantren mengajarkan kitab kuning dengan berbagai metode khas pesantrennya. Sehingga madrasah pesantren ini sebenarnya merupakan klassikalisasi dari pesantren.  Orientasi awal dari madrasah ini adalah sebagai lembaga pendidikan keagamaan. Maka wajar saja jika mata pelajarannya adalah mata pelajaran agama sebagaimana pesantren.

(more…)

 

DIMENSI-DIMENSI KEBERAGAMAAN

Oleh ARWANI

Tujuan Pendidikan Agama adalah membentuk siswa agar menjadi manusia yang “beragama”. Manusia “beragama” ini tentu saja tidak sekedar mengetahui berbagai konsep dan ajaran agama, melainkan juga meyakini, menghayati, mengamalkan dan mengekspresikan agama dalam kehidupan kesehariannya.

Kata “Beragama” itu sendiri memang bisa mengandung berbagai makna dan dimensi. Ia bisa berkaitan dengan pengetahuan tentang berbagai konsep keagamaan, keyakinan pada doktrin-doktrin, ketaatan pemeluk menjalankan ritual, pengalaman mistik atau keterlibatan pada berbagai aktivitas keagamaan.

Berkaitan dengan kata “beragama” itu, C.Y. Glock & R. Stark dalam American Piety: The Nature of Religious Commitment (1968) menyebutkan lima dimensi keberagaamaan; belief dimension, ritual dimension, consequential dimension, experiential dimension dan knowledge dimension.

Menurut Jamaluddin Ancok (1994) lima dimensi keberagamaan rumusan Glock & Stark itu melihat keberagamaan tidak hanya dari dimensi ritual semata tetapi juga pada dimensi-dimensi lain. Ancok (1994) menilai, meskipun tidak sepenuhnya sama, lima dimensi keberagamaan rumusan Glock & Stark itu bisa disejajarkan dengan konsep Islam. Dimensi ideologis bisa disejajarkan dengan akidah, dimensi ritual bisa disejajarkan dengan syari’ah, khususnya ibadah, dan dimensi konsekuensial bisa disejajarkan dengan akhlak. Akidah, syari’ah dan akhlak adalah inti dari ajaran Islam. Dimensi intelektual mempunyai peran yang cukup penting pula karena pelaksanaan dimensi-dimensi lain sangat membutuhkan pengetahuan terlebih dahulu. Sedangkan dimensi eksperiensial dapat disejajarkan dengan dimensi tasawuf atau dimensi mistik.

Dalam perspektif Islam, keberagamaan harus bersifat menyeluruh sebagaimana diungkap dalam Al-Qur’an (2: 208) bahwa orang-orang yang beriman harus masuk ke dalam Islam secara menyeluruh (kaffah). Oleh karena itu seorang muslim harus mempunyai keyakinan terhadap akidah Islam, mempunyai komitmen dan kepatuhan terhadap syari’ah, mempunyai akhlak yang baik, ilmu yang cukup dan jiwa yang sufistik..

Dimensi Ideologis

Dimensi ini merupakan bagian dari keberagamaan yang berkaitan dengan apa yang harus dipercayai dan menjadi sistem keyakinan (creed). Doktrin mengenai kepercayaan atau keyakinan adalah yang paling dasar yang bisa membedakan agama satu dengan lainnya. Dalam Islam, keyakinan-keyakinan ini tertuang dalam dimensi akidah.

Akidah Islam dalam istilah Al-Qur’an adalah iman. Iman tidak hanya berarti percaya melainkan keyakinan yang mendorong munculnya ucapan dan  perbuatan-perbuatan sesuai dengan keyakinan tadi. Iman dalam Islam terdapat dalam rukun iman yang berjumlah enam.

Dimensi Ritual

Dimensi ini merupakan bagian dari keberagamaan yang berkaitan dengan perilaku yang disebut ritual keagamaan seperti pemujaan, ketaatan dan hal-hal lain yang dilakukan untuk menunjukkan komitmen terhadap agama yang dianutnya. Perilaku di sini bukan perilaku dalam makna umum, melainkan menunjuk kepada perilaku-perilaku khusus yang ditetapkan oleh agama seperti tata cara beribadah dan ritus-ritus khusus pada hari-hari suci atau hari-hari besar agama.

Dimensi ini sejajar dengan ibadah. Ibadah merupakan penghambaan manusia kepada Allah sebagai pelaksanaan tugas hidup selaku makhluk Allah. Ibadah yang berkaitan dengan ritual adalah ibadah khusus atau ibadah mahdhah, yaitu ibadah yang bersifat khusus dan langsung kepada Allah dengan tatacara, syarat serta rukun yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an serta penjelasan dalam hadits nabi.  Ibadah yang termasuk dalam jenis ini adalah shalat, zakat, puasa dan haji.

(more…)

 

TEORI KONDISIONING PAVLOV

Oleh ARWANI

Selintas tentang Pavlov

Ivan Petrovich Pavlov dilahirkan di Rjasan, Rusia pada tanggal 18 September 1849, dan wafat di Leningrad pada tanggal 27 Pebruari 1936. Ayahnya yang seorang pendeta, menginginkan Pavlov mengikuti jejaknya. Tetapi Pavlov merasa tidak cocok menjadi pendeta, dan lebih memilih memasuki fakultas kedokteran dan mengambil spesialisasi bidang fisiologi. Dengan begitu, pada awalnya Pavlov bukanlah sarjana psikologi. Eksperimen Pavlov di bidang psikologi dimulai ketika ia melakukan studi tentang pencernaan anjing. Dalam percobaan tersebut, ia menemukan bahwa subyek penelitiannya akan mengeluarkan air liur ketika melihat makanan. Selanjutnya ia mengembangkan dan mengeksplorasi penemuannya dengan mengembangkan studi perilaku (behavior study) yang dikondisikan, yang kemudian dikenal dengan Classical Conditioning. Hasil karya ini sampai menghantarkannya menerima hadiah Nobel pada tahun 1904. Teori itu kemudian menjadi landasan perkembangan aliran psikologi behaviorisme, sekaligus meletakkan dasar-dasar bagi pengembangan teori-teori tentang belajar (Sumadi Suryabrata, edisi V, 1990: 280)

Komponen Dasar Teori Kondisioning

Klein menyebut ada empat komponen dasar yang membangun Teori Kondisioning Pavlov. Keempatnya adalah (1) unconditioned stimulus (UCS) (2) unconditioned response (UCR), (3) conditioned stimulus (CS), dan (4) conditioned response (CR). Pavlov sendiri, menurut Bower, sesungguhnya menggunakan kata unconditioned reflex dan conditioned reflex,[1] sebagaimana diindikasikan dalam dua bukunya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul Conditioned Reflex (1927) dan Lectures on Conditioned Reflex (1928). Kata response lebih disukai oleh ahli psikologi Amerika (Bower, 5th ed., 1981: 50).

Masing-masing komponen di atas bisa diidentifikasi dari percobaan pavlov terhadap anjing. Awalnya pavlov meletakkan daging dihadapan anjing. Seketika anjing mengeluarkan air liurnya. Dalam konteks komponen kondisioning, daging tadi adalah unconditioned stimulus (UCS) dan keluarnya air liur karena daging itu adalah unconditioned response (UCR). Selanjutnya, pavlov menghadirkan stimulus baru berupa lampu yang dinyalakan beberapa saat sebelum ia memperlihatkan daging pada anjing. Hal ini dilakukan berulang-ulang, hingga pada akhirnya, hanya dengan menyalakan lampu tanpa diikuti dengan memperlihatkan daging, anjing itu mengeluarkan air liurnya. Nyala lampu, sebelum dipasangkan dengan daging disebut neutral stimuli, tapi setelah berpasangan dengan daging disebut conditioned stimuli. Sedangkan keluarnya air liur oleh CS disebut conditioned response. Proses untuk membuat anjing memperoleh CS disebut conditioning.

Contoh yang paling dekat dengan dunia pendidikan adalah seperti yang dikemukakan oleh Ratna Wilis berikut ini: Pada kali pertama masuk sekolah, Maya diterima oleh seorang Ibu Guru yang ramah, penuh senyuman dan banyak memujinya. Belum lagi dua minggu berlalu, Maya minta diantarkan ke sekolah lebih pagi, sambil berkata kepada ibunya bahwa kelak di kemudian hari, ia ingin menjadi guru. Pada contoh lain, seorang anak enggan pergi ke sekolah karena pada hari pertama masuk sekolah, ia mendapati guru yang tidak ramah, disiplin sekolah yang ketat dan ejekan teman-temannya (Ratna Wilis, 1988: 12-17)

(more…)

 

MENINJAU KEMBALI SERAGAM SEKOLAH April 13, 2010

Oleh ARWANI

Setiap tahun ajaran baru pendidikan, perbincangan mengenai seragam sekolah selalu tak terlewatkan. Bagi wali murid yang tidak mampu, dana untuk membeli seragam semakin menambah beban biaya pendidikan. Terlebih jika mempunyai anak yang baru naik tingkat, maka seragam yang harus dibeli lebih dari satu pasang.

Pada sisi lain, seragam sekolah ditengarai semakin memberikan peluang terjadinya KKN dan komersialisasi oleh pihak sekolah atau instansi terkait. Untuk menghapus kemungkinan ini, pada tahun 2000-an, Kanwil Depdiknas DKI waktu itu sempat melarang dirinya sendiri ikut “bermain” dalam perdagangan bahan seragam sekolah.

Persoalan semacam di atas memang selalu muncul dan sering terjadi berulang-ulang setiap tahun. Akan tetapi itu hanyalah menyangkut persoalan permukaan saja. Di balik itu sesungguhnya ada persoalan yang bersifat essensial menyangkut nilai-nilai filosofis pendidikan yang layak untuk dipertanyakan; mengapa diberlakukan seragam; apa landasan filosofisnya; apa tujuannya?

Walau selalu memunculkan persoalan, tetapi jika ditanya tentang pemberlakuan seragam sekolah, semua pihak seperti paduan suara yang menyanyikan lagu setuju. Alasannya sangat klasik; seragam akan mencegah pamer kekayaan atau bermewah-mewahan dalam pakaian; menutupi perbedaan status ekonomi siswa; memunculkan rasa kebersamaan dan alasan-alasan sejenis. Alasan ini seakan sudah paten, ideologis dan susah untuk diganggu gugat.

Akan tetapi kalau dikritisi lebih jauh, sebenarnya ada banyak keberatan yang bisa menggagalkan alasan-alasan tersebut. Dalam hal berpakaian mewah, misalnya, realitas yang terjadi justru bertolak belakang dari kekhawatiran di muka. Para siswa yang berasal dari keluarga kaya, selama ini malah sering memakai pakaian yang kumal, compang-camping atau celana belel, sehingga yang menjadi persoalan sekolah selama ini bukannya bagaimana mengerem kecenderungan bermewah-mewahan pakaian tetapi menjaga kerapian dan kesopanan pakaian siswa.

(more…)

 

PARADIGMA KEILMUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

Filed under: Resensi Buku — algaer @ 10:51 am
Tags: , ,

Oleh ARWANI

(Pernah dimuat di Harian Republika, 28 Desember 2003)

Judul Buku : Menyatukan Kembali Ilmu-Ilmu Agama dan Umum: Upaya mempertemukan Epistemologi Islam dan Umum.

Penulis : Amin Abdullah, dkk.

Penerbit : SUKA Press, Yogjakarta

Edisi : Pertama, 2003

Tebal : xvi + 215 hlm

Harga: —

Pak Fulan adalah seseorang yang ingin masuk Islam secara “kaffah.” Ia merasa sudah melakukan Islamisasi terhadap semua yang ada dalam kehidupan dirinya. Hanya satu yang belum. Mobil Kijangnya! Ia berpikir sejenak, lalu tersenyum karena mendapat ide. Ia masuk ke garasi, mengambil gergaji dan memotong kanlpot mobil itu. Ketika ditanya istrinya tentang apa yang ia lakukan, Pak Fulan dengan santai menjawab bahwa ia sedang menyunat (khitan) mobilnya.

Cerita dari Bakdi Sumanto di atas, yang diangkat Kuntowijoyo dalam tulisannya di buku ini, merupakan sindiran terhadap islamisasi yang seringkali hanya dimaknai dan berhenti pada wilayah simbol, serta sama sekali belum menyentuh wilayah substansial.

Salah satu bentuk simplifikasi itu, dalam bidang pendidikan adalah keberadaan berbagai Universitas Islam, atau Universitas yang dikelola oleh lembaga Islam seperti Universitas Islam Negeri (Jakarta), Universitas Islam Indonesia (Yogjakarta), Universitas Islam Malang, Universitas Muhammadiyah (di berbagai kota), Universitas Darul Ulum (Jombang), dan sebagainya.

Di berbagai Universitas itu, ciri keislamaan seakan ditentukan hanya oleh keberadaan Fakultas Agama Islam, sehingga secara anekdotal sering dilontarkan bahwa mereka mempertahankan Fakultas Agama hanya agar mendapat legitimasi untuk menyebut diri sebagai Universitas Islam.

(more…)

 

Dorothy Law Nolte: April 8, 2010

Filed under: perenting — algaer @ 5:32 pm
Tags: ,

Jika anak-anak hidup dengan kritikan,

mereka belajar untuk mengutuk.

Jika anak-anak hidup dengan permusuhan,

mereka belajar untuk melawan.

Jika anak-anak hidup dengan rasa takut,

mereka belajar untuk menjadi memprihatinkan.

Jika anak-anak hidup dengan belas kasihan,

mereka belajar untuk merasa menyesal sendiri.

Jika anak-anak hidup dengan olokan,

mereka belajar untuk merasa malu.

Jika anak-anak hidup dengan kecemburuan,

mereka belajar untuk merasa iri hati.

Jika anak-anak hidup dengan rasa malu,

mereka belajar untuk merasa bersalah.

Jika anak-anak hidup dengan semangat,

mereka belajar percaya diri.

Jika anak-anak hidup dengan toleransi,

mereka belajar kesabaran.

Jika anak-anak hidup dengan pujian,

mereka belajar apresiasi.

Jika anak-anak hidup dengan penerimaan,

mereka belajar untuk cinta.

Jika anak-anak hidup dengan persetujuan,

mereka belajar seperti itu sendiri.

Jika anak-anak hidup dengan pengakuan,

mereka belajar bagus untuk memiliki tujuan.

Jika anak-anak hidup dengan berbagi,

mereka belajar kedermawanan.

Jika anak-anak hidup dengan kejujuran,

mereka belajar sebenarnya.

Jika anak-anak hidup dengan keadilan,

mereka belajar keadilan.

Jika anak-anak hidup dengan baik-baik,

mereka belajar menghargai.

Jika anak-anak hidup dengan keamanan,

mereka belajar untuk memiliki iman dalam diri mereka sendiri dan orang-orang di sekitar mereka.

Jika anak-anak hidup dengan keramahan,

mereka belajar di dunia adalah tempat yang bagus untuk hidup.