Algaer's Blog

Just another WordPress.com weblog

DIMENSI-DIMENSI KEBERAGAMAAN Mei 10, 2010

Oleh ARWANI

Tujuan Pendidikan Agama adalah membentuk siswa agar menjadi manusia yang “beragama”. Manusia “beragama” ini tentu saja tidak sekedar mengetahui berbagai konsep dan ajaran agama, melainkan juga meyakini, menghayati, mengamalkan dan mengekspresikan agama dalam kehidupan kesehariannya.

Kata “Beragama” itu sendiri memang bisa mengandung berbagai makna dan dimensi. Ia bisa berkaitan dengan pengetahuan tentang berbagai konsep keagamaan, keyakinan pada doktrin-doktrin, ketaatan pemeluk menjalankan ritual, pengalaman mistik atau keterlibatan pada berbagai aktivitas keagamaan.

Berkaitan dengan kata “beragama” itu, C.Y. Glock & R. Stark dalam American Piety: The Nature of Religious Commitment (1968) menyebutkan lima dimensi keberagaamaan; belief dimension, ritual dimension, consequential dimension, experiential dimension dan knowledge dimension.

Menurut Jamaluddin Ancok (1994) lima dimensi keberagamaan rumusan Glock & Stark itu melihat keberagamaan tidak hanya dari dimensi ritual semata tetapi juga pada dimensi-dimensi lain. Ancok (1994) menilai, meskipun tidak sepenuhnya sama, lima dimensi keberagamaan rumusan Glock & Stark itu bisa disejajarkan dengan konsep Islam. Dimensi ideologis bisa disejajarkan dengan akidah, dimensi ritual bisa disejajarkan dengan syari’ah, khususnya ibadah, dan dimensi konsekuensial bisa disejajarkan dengan akhlak. Akidah, syari’ah dan akhlak adalah inti dari ajaran Islam. Dimensi intelektual mempunyai peran yang cukup penting pula karena pelaksanaan dimensi-dimensi lain sangat membutuhkan pengetahuan terlebih dahulu. Sedangkan dimensi eksperiensial dapat disejajarkan dengan dimensi tasawuf atau dimensi mistik.

Dalam perspektif Islam, keberagamaan harus bersifat menyeluruh sebagaimana diungkap dalam Al-Qur’an (2: 208) bahwa orang-orang yang beriman harus masuk ke dalam Islam secara menyeluruh (kaffah). Oleh karena itu seorang muslim harus mempunyai keyakinan terhadap akidah Islam, mempunyai komitmen dan kepatuhan terhadap syari’ah, mempunyai akhlak yang baik, ilmu yang cukup dan jiwa yang sufistik..

Dimensi Ideologis

Dimensi ini merupakan bagian dari keberagamaan yang berkaitan dengan apa yang harus dipercayai dan menjadi sistem keyakinan (creed). Doktrin mengenai kepercayaan atau keyakinan adalah yang paling dasar yang bisa membedakan agama satu dengan lainnya. Dalam Islam, keyakinan-keyakinan ini tertuang dalam dimensi akidah.

Akidah Islam dalam istilah Al-Qur’an adalah iman. Iman tidak hanya berarti percaya melainkan keyakinan yang mendorong munculnya ucapan dan  perbuatan-perbuatan sesuai dengan keyakinan tadi. Iman dalam Islam terdapat dalam rukun iman yang berjumlah enam.

Dimensi Ritual

Dimensi ini merupakan bagian dari keberagamaan yang berkaitan dengan perilaku yang disebut ritual keagamaan seperti pemujaan, ketaatan dan hal-hal lain yang dilakukan untuk menunjukkan komitmen terhadap agama yang dianutnya. Perilaku di sini bukan perilaku dalam makna umum, melainkan menunjuk kepada perilaku-perilaku khusus yang ditetapkan oleh agama seperti tata cara beribadah dan ritus-ritus khusus pada hari-hari suci atau hari-hari besar agama.

Dimensi ini sejajar dengan ibadah. Ibadah merupakan penghambaan manusia kepada Allah sebagai pelaksanaan tugas hidup selaku makhluk Allah. Ibadah yang berkaitan dengan ritual adalah ibadah khusus atau ibadah mahdhah, yaitu ibadah yang bersifat khusus dan langsung kepada Allah dengan tatacara, syarat serta rukun yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an serta penjelasan dalam hadits nabi.  Ibadah yang termasuk dalam jenis ini adalah shalat, zakat, puasa dan haji.

Dimensi Konsekuensial

Dimensi ini menunjuk pada konsekuensi-konsekuensi yang ditimbulkan oleh ajaran agama dalam perilaku umum yang tidak secara langsung dan khusus ditetapkan oleh agama seperti dalam dimensi ritualis. Walaupun begitu, sebenarnya banyak sekali ditemukan ajaran Islam yang mendorong kepada umatnya untuk berperilaku yang baik seperti ajaran untuk menghormati tetangga, menghormat tamu, toleran, inklusif, berbuat adil, membela kebenaran, berbuat baik kepada fakir miskin dan anak yatim, jujur dalam bekerja, dan sebagainya.

Perilaku umum ini masuk dalam wilayah hubungan manusia (hablum minannas) yang mestinya harus tidak bisa dipisahkan dari hubungan kepada Allah (hablum minallah). Dalam bahasa Hassan Hanafi (2003) iman dan praksis tindakan tidak boleh dipisahkan. Iman, menurutnya bisa bertambah dan berkurang oleh tindakan-tindakan yang dilakukan seseorang. Konsekuensi tindakan ini, dalam hal-hal tertentu, terkadang lebih berat daripada keyakinan dan ritual, sehingga, menurut pendapat Asghar Ali (1997) penolakan pemuka Makkah terhadap ajaran Muhammad bukan karena semata-mata penolakan ajaran tauhidnya, tetapi lebih karena konsekuensi-konsekuensi ekonomis dan politis yang harus ditanggung dari ajaran revolusioner teologi Muhammad.

Menurut Nasution (1985) tujuan ibadah atau ritual dalam Islam bukan hanya untuk menyembah Allah semata, melainkan untuk mendekatkan diri kepada Allah agar manusia selalu teringat kepada hal-hal yang baik dan suci sehingga mendorongnya untuk berperilaku yang luhur, baik kepada sesama manusia maupun kepada lingkungan alam sekitar.

Dimensi  Eksperiensial

Dimensi ini adalah bagian dari keberagamaan yang berkaitan dengan perasaan keagamaan seseorang. Psikologi agama menyebutnya sebagai pengalaman keagamaan (religious experience) yaitu unsur perasaan dalam kesadaran agama yang membawa pada suatu keyakinan (Zakiah Darajat, 1996). Pengalaman keagamaan ini bisa terjadi dari yang paling sederhana seperti merasakan kekhusukan pada waktu shalat dan ketenangan setelah menjalankannya, atau merasakan nikmat dan bahagia ketika memasuki bulan Ramadlan.

Pengalaman yang lebih kompleks adalah seperti pengalaman ma’rifah (gnosis) yang dialami oleh para sufi yang sudah dalam taraf merasakan bahwa hanya Tuhanlah yang sungguh berarti, sehingga, jangankan dibanding dengan dunia seisinya, dibanding sorga seisinya pun, Rabi’ah al-Adawiyah justru lebih memilih shalat, karena dengan shalat ia akan ‘bertemu’ dan berkomunikasi dengan Tuhan. Bagi sufi setingkat Rabi’ah, komitmen menjalankan berbagai perintah agama bukan lagi karena melihatnya sebagai kewajiban, tetapi lebih didasarkan pada cinta (mahabbah) yang membara kepada Allah. Karena didasarkan dorongan cinta, maka apapun yang dilakukan terasa nikmat.

Pengalaman keagamaan ini muncul dalam diri seseorang dengan tingkat keagamaan yang tinggi. Dalam Islam pola keberagamaan bisa dibedakan dari yang paling rendah yaitu syari’ah, kemudian thariqah dan derajat tertinggi adalah haqiqah. Pola keberagamaan thariqah dan haqiqah adalah pola keberagamaan tasawuf. Tasawuf bertujuan memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan.

Dimensi Intelektual

Setiap agama memiliki sejumlah informasi khusus yang harus diketahui oleh para pemeluknya. Dalam Islam, misalnya ada informasi tentang berbagai aspek seperti pengetahuan tentang Al-qur’an dengan segala bacaan, isi dan kandungan maknanya, al-Hadits, berbagai praktek ritual atau ibadah dan muamalah, konsep keimanan, berbagai konsep dan bentuk akhlak, tasawuf, sejarah dan peradaban masyarakat Islam.

Implikasi dalam Pendidikan Agama

Melihat lima dimensi keberagamaan di atas, maka tugas pendidikan agama yang ingin membentuk siswa yang “beragama” akan meliputi wilayah yang cukup luas, paling tidak meliputi lima dmensi di atas. Masing-masing dimensi harus mendapatkan pengelolaan dan perlakuan berbeda, baik dari segi tujuan belajar, materi, pengalaman belajar, metode, media, perencanaan maupun teknik pengukuran dan penilaiannya.

Selain itu, Pendidikan Agama yang ada di sekolah juga mesti memperluas kerjasama dengan pihak-pihak luar sekolah seperti keluarga (orang tua siswa) dan masyarakat, karena keberagamaan anak tidak mungkin diukur hanya pada saat anak di sekolah saja. Ekspresi anak pada kehidupan yang sebenarnya, yaitu ketika mereka berada di luar sekolah justru obyek yang cukup representatif untuk melihat tingkat keberagamaan anak.

Melihat lima dimensi keberagamaan berikut implikasinya dalam Pendidikan Agama, maka implementasi Pendidikan Agama membutuhkan perencanaan, persiapan dan skill yang matang dari Guru Agama serta dukungan yang cukup dari Sekolah, orang tua serta masyarakat. Penerapan Competency Based Curriculum, merupakan acuan awal yang cukup mendukung untuk mengimplementasikan Pendidikan Agama yang kaffah yang bisa menyentuh berbagai dimensi keberagamaan.

 

4 Responses to “DIMENSI-DIMENSI KEBERAGAMAAN”

  1. MAMUN Berkata

    terima kasih banyak tulisan ya..mohon ijin sy kopi

  2. abdurahman Berkata

    terma kasih atas saya kopi dan membantu saya sebagai referensi atas tugas mata kuliah saya

  3. Anonymous Berkata

    Trimakasih atas pengertian2 dimensi diatas sangat membantu Gbu


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.