Algaer's Blog

Just another WordPress.com weblog

MENINJAU KEMBALI SERAGAM SEKOLAH April 13, 2010

Oleh ARWANI

Setiap tahun ajaran baru pendidikan, perbincangan mengenai seragam sekolah selalu tak terlewatkan. Bagi wali murid yang tidak mampu, dana untuk membeli seragam semakin menambah beban biaya pendidikan. Terlebih jika mempunyai anak yang baru naik tingkat, maka seragam yang harus dibeli lebih dari satu pasang.

Pada sisi lain, seragam sekolah ditengarai semakin memberikan peluang terjadinya KKN dan komersialisasi oleh pihak sekolah atau instansi terkait. Untuk menghapus kemungkinan ini, pada tahun 2000-an, Kanwil Depdiknas DKI waktu itu sempat melarang dirinya sendiri ikut “bermain” dalam perdagangan bahan seragam sekolah.

Persoalan semacam di atas memang selalu muncul dan sering terjadi berulang-ulang setiap tahun. Akan tetapi itu hanyalah menyangkut persoalan permukaan saja. Di balik itu sesungguhnya ada persoalan yang bersifat essensial menyangkut nilai-nilai filosofis pendidikan yang layak untuk dipertanyakan; mengapa diberlakukan seragam; apa landasan filosofisnya; apa tujuannya?

Walau selalu memunculkan persoalan, tetapi jika ditanya tentang pemberlakuan seragam sekolah, semua pihak seperti paduan suara yang menyanyikan lagu setuju. Alasannya sangat klasik; seragam akan mencegah pamer kekayaan atau bermewah-mewahan dalam pakaian; menutupi perbedaan status ekonomi siswa; memunculkan rasa kebersamaan dan alasan-alasan sejenis. Alasan ini seakan sudah paten, ideologis dan susah untuk diganggu gugat.

Akan tetapi kalau dikritisi lebih jauh, sebenarnya ada banyak keberatan yang bisa menggagalkan alasan-alasan tersebut. Dalam hal berpakaian mewah, misalnya, realitas yang terjadi justru bertolak belakang dari kekhawatiran di muka. Para siswa yang berasal dari keluarga kaya, selama ini malah sering memakai pakaian yang kumal, compang-camping atau celana belel, sehingga yang menjadi persoalan sekolah selama ini bukannya bagaimana mengerem kecenderungan bermewah-mewahan pakaian tetapi menjaga kerapian dan kesopanan pakaian siswa.

Seragam sebenarnaya juga tidak bisa menutupi perbedaan status ekonomi siswa. Pakaian hanyalah sebagaian kecil dari indikasi kelas ekonomi siswa. Sedangkan jika dilihat dari perspektif metode pendidikan, penyeragaman pakaian tidaklah tepat. Metode itu cendrung bersifat lahiriah, dan malah menjauhkan siswa dari realitas persoalan sebenarnya.

Padahal siswa menemukan lingkungan yang sangat berbeda di luar sekolah. Baru melangkahkan kaki lewat pagar saja mereka akan segera menemukan realitas sesungguhnya tentang keberagaman latar belakang ekonomi mereka. Lihat saja, diantara mereka ada yang pulang pergi naik angkutan umum, sepeda onthel atau sepeda motor. Tetapi di sekolah-sekolah tertentu banyak diantara mereka yang dijemput dengan mobil-mobil supermerah dengan merk ternama seperti Mercedez Benz, BMW, Volvo dan Jaguar. Apakah alat transportasi siswa ini tidak perlu untuk diseragamkan?

Bahkan pada apa yang menempel di badan mereka saja, selain pakaian ada banyak hal yang bisa membedakan status ekonomi mereka, mulai dari sepatu, tas, ikat pinggang, sampai telepon selular. Apakah hal-hal seperti ini perlu diseragamkan pula? Kalau selama ini tidak, apakah kurang berpengaruh terhadap mereka dibanding pakaian.

Berkaitan dengan perkembangan kepribadian siswa, pemberlakuan seragam merupakan tindakan yang mencampuri wilayah privacy, kebebasan menentukan pilihan dan mengabaikan keberagaman naluri, selera serta cita rasa. Karenanya penyeragaman bisa menghambat dan menekan perkembangan wilayah kejiwaan yang berkaitan dengan kemampuan-kemampuan tersebut. Siswa menjadi terbiasa untuk didikte, dipilihkan dan diatur oleh “kekuasaan” di atasnya.

Penyeragaman juga tidak selaras dengan konsep Bhinneka Tunggal Ika. Siswa akan terbiasa dengan suasana ketunggalan dan tidak akrab dengan suasana keberagaman. Yang baik, yang solider, yang menjunjung kebersamaan adalah yang seragam. Yang tidak seragam adalah tidak baik, tidak solider dan tidak menjunjung kebersamaan.

Dalam suasana demikian, yang menonjol adalah proses kolektivisasi. Kesadaran yang muncul adalah kesadaran kolektif. Individu kurang diberi kesempatan untuk berbeda karena harus menjadi bagian integral dari kelompoknya. Proses individualisasi siswa menjadi terhambat.

Individualisasi merupakan proses untuk menjadi dirinya sendiri, mempunyai kesadaran sendiri, mempunyai kekhasan dan keunikan sendiri yang bisa jadi berbeda dengan kelompoknya. Proses ini kemudian diikuti dengan kesadaran untuk menghormati sikap dirinya sendiri sekaligus juga sikap orang lain.

Dilihat dari berbagai persoalan di atas maka pemberlakuan seragam sekolah sebenarnya bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar pendidikan yaitu penyadaran, pengembangan, pemberdayaan, pemerdekaan, pembebasan, pemanusiaan.

Akibatnya pemberlakuan seragam mempunayi kontribusi terhadap munculnya individu-individu yang tidak sadar atas dirinya sendiri, tidak berkembang, tidak berdaya, tidak merdeka, tidak bebas dan tidak menjadi manusia yang mandiri. Individu yang tidak berani menentukan pilihannya sendiri, tidak berani berbeda, tidak biasa menghadapi dan menghormati perbedaan, hanya manut grubyug terhadap lingkungannya, atau patuh dan taat terhadap kekuasaan yang membawahinya.

Di kalangan pelajar individu semacam itu tercermin dalam fenomena tawuran pelajar. Ketika satu kelompok bentrok dengan kelompok lain, praktis yang lain tanpa tahu persoalan dan tanpa pertimbangan rasional akan ikut bahu membahu.

Begitu pula dalam masalah gaya hidup. Pelajar akan mudah larut dalam gaya yang dianggap ngetrend tanpa mempertimbangkan aspek positif dan negatifnya. Yang tidak mengikuti akan segera dilabeli kurang gaul, ketinggalan zaman, out of date.

Dalam kehidupan yang lebih luas, individu yang gandrung pada keseragaman, ketunggalan atau uniformitas ini bisa menghambat proses demokratasi bangsa, karena demokrasi meniscayakan perbedaan dan penghormatan atas perbedaan itu.

Mengingat keraguan atas fungsi dan manfaat pakaian seragam serta berbagai ekses negatif yang ditimbulkannya, maka ada baiknya kita menyisakan ruang batin untuk mempertanyakan dan meninjau kembali pemberlakuan seragam sekolah.

Kekhawatiran atas pamer kemewahan dalam berpakaian dan keinginan untuk menutupi perbedaan latar belakang kelas ekonomi siswa, selain terbukti tidak efektif, juga tidak tepat jika diekspresikan dengan penyeragaman (uniformitas), sebuah cara yang menurut Romo Mangun justru sangat digemari oleh rezim fasis dan komunis. Cara demikian akan sangat merugikan bagi perkembangan kepribadian anak dan cenderung menghindarkan anak dari realitas persoalan yang sesungguhnya.

Cara terbaik adalah mendidik siswa untuk mengenali dan menerima realitas sesungguhnya. Untuk itu guru harus lebih aktif sebagai pendidik yang terus menerus menanamkan etika, tanggungjawab, toleransi, sikap menerima kenyataan dan tidak kecil hati bagi siswa miskin, sikap tenggang rasa bagi siswa kaya dan prinsip bahwa kehormatan tidak terletak pada pakaian yang dikenakan.

Pendidikan yang sesungguhnya justru menghendaki penghormatan atas adanya keberagaman, karena Tuhan memang menciptakan manusia dengan beragam selera, cita rasa, naluri, minat, pikiran dan sebagainya. Pendidikan adalah proses yang mendorong siswa untuk mengakui keberadaanya, keunikannya, berdaya untuk menentukan pilihan hidupnya serta mengembangkan dirinya dan segala potensinya.

Dengan memilih dan mengenakan pakaian yang sesuai dengan keinginannya sendiri, anak akan belajar untuk mengenali dan mengembangkan selera dan cita rasa, belajar untuk menentukan pilihannya, belajar mengambil keputusan, belajar untuk bertanggungjawab atas pilihan dan keputusannya, belajar untuk toleran dan menghargai perbedaan.

Individu yang melewati proses belajar sebagaimana di atas, tentunya akan lebih matang untuk menghadapi berbagai tantangan kehidupannya sendiri, juga lebih siap dalam proses demokratisasi bangsa.

About these ads
 

6 Responses to “MENINJAU KEMBALI SERAGAM SEKOLAH”

  1. jendelakatatiti Berkata

    Sebenarnya ada alasan lain mengapa siswa berseragam, jika tidak berseragam orang tua siswa yang tidak mampu repot juga menyiapkan baju yang layak tuk anaknya dari Senin sampai Sabtu (minimal perlu 3 pasang pakaian). Contoh anak TK yang tidak berseragam, mereka tipa hari mengenakan baju yang bagus-bagus yang tentu perlu biaya tuk belinya, gitu kali ya alasannya. Sebenarnya sih tidak berseragam akan lebih bagus, karena aturan ttg pakaian, rambut, sepatu, kaos kaki menyibukkan guru dalam menegur anak yang melanggar (tidak seragam dan rapi). Hal itu menyita waktu guru dan bisa membuat siswa takut hingga kreativitasnya bisa berkurang. Semoga jadi bahan renungan praktisi dan pengambil kebijakan bidang pendidikan, salam jendelakatatiti.wordpress.com

  2. arwani Berkata

    trims, komentarnya, salam kenal juga

  3. Ibnu Rante Berkata

    seragam dalam hal ini mempunyai dampak negatif dan positip, pengalaman kami diantara manfaat seragam adalah untuk memudahkan kontrol kepada siswa, apalagi siswa yang bersekolah di kota-kota, sering kali anak-anak yang kurang sadar posisi mereka, mereka sering keluar masuk mall pada jam-jam pelajaran, sehingga bisa dibayangkan kalau anak-anak tidak berseragam, sungguh sangat sulit untuk mengontrol mereka. meskipun sangat kita sayangkan seragam, kadang-kadang tidak luput dari spekulan-spekulan untuk mencari keuntungan, yang akhirnya memberatkan para orang tua/wali murid.

  4. Asrul Berkata

    Untuk tingkat pendidikan tertentu, seragam masih dibutuhkan….jika sejak SD atau SMP sudah dibiarkan tidak seragam boleh memakai baju apa saja maka anak-anak miskin akan berhenti sekolah. Mengajarkan perbedaan dan menerima kenyataan tidaklah semudah yang diucapkan. Pakaian seragam selama ini paling sedikit justru telah menjembatani kesenjangan itu

  5. Anonymous Berkata

    saya rasa berseragam di sekolah haruslah di laksanakan karna dgn berseragam mendidik siswa untuk terbiasa berseragam setelah iya masuk ke dalam dunia pekerjaan,,.

  6. Anonymous Berkata

    menurut saya pemberlakuan seragam untuk identitas seorang siswa tidaklah efektif karena banyak sekali bukti yang menunjukkan bahwa ada banyak siswa yang menutupi seragamnya saat keluar dari area sekolah. .


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.