OLEH ARWANI
A. Pengertian
Perbincangan tentang evaluasi, tidak bisa dilepaskan dari tiga istilah; pengukuran, penilaian, evaluasi. Pengukuran dapat diartikan dengan kegiatan untuk mengukur sesuatu. Pada hakekatnya, kegiatan ini adalah membandingkan sesuatu dengan sesuatu yang lain[1]. Mengukur suhu badan seseorang dengan termometer, berarti membandingkan suhu badan itu dengan patokan ukuran suhu yang ada pada termometer tersebut. Mengukur jarak kota A dengan kota B, berarti membandingkan jarak kota A dan B dengan patokan ukuran meter atau kilometer. Pengukuran adalah proses kuantifikasi keadaan seseorang atau tempat kedalam angka. Karenanya, dapat dipahami bahwa pengukuran itu bersifat kuantitatif.
Maksud dilaksanakan pengukuran sebagaimana dikemukakan Anas Sudijono ada tiga macam yaitu : (1) pengukuran yang dilakukan bukan untuk menguji sesuatu seperti orang mengukur jarak dua buah kota, (2) pengukuran untuk menguji sesuatu seperti menguji daya tahan lampu pijar serta (3) pengukuran yang dilakukan untuk menilai. Pengukuran ini dilakukan dengan jalan menguji hal yang ingin dinilai seperti kemajuan belajar dan lain sebagainya[2].
Dalam dunia pendidikan, pengukuran adalah pengumpulan data melalui pengamatan empiris. Proses pengumpulan ini dilakukan untuk menaksir apa yang telah diperoleh siswa setelah mengikuti pelajaran selama waktu tertentu. Proses ini dapat dilakukan dengan mengamati kinerja mereka, mendengarkan apa yang mereka katakan serta mengumpulkan informasi yang sesuai dengan tujuan melalui apa yang telah dilakukan siswa.
Penilaian merupakan langkah lanjutan setelah dilakukan pengukuran. Informasi yang diperoleh dari hasil pengukuran selanjutnya dideskripsikan dan ditafsirkan. Menurut Djemari Mardapi penilaian adalah kegiatan menafsirkan atau mendeskripsikan hasil pengukuran[3]. Hasil pengukuran yang bersifat kuantitatif dari pengukuran, kemudian ditafsirkan dalam bentuk nilai.
Ada dua acuan yang dapat dipergunakan dalam melakukan penilaian yaitu acuan norma (norm-referenced) dan acuan kriteria (criterion-referenced).[4] Penggunaan acuan norma dilakukan untuk menyeleksi dan mengetahui dimana posisi seseorang terhadap kelompoknya. Misalnya jika seseorang mengikuti tes tertentu, maka hasil tes akan memberikan gambaran dimana posisinya jika dibandingkan dengan orang lain yang mengikuti tes tersebut. Adapun acuan kriteria dipergunakan untuk menentukan kelulusan seseorang dengan membandingkan hasil yang dicapai dengan kriteria/standar yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Acuan ini biasanya digunakan untuk menentukan kelulusan seseorang, misal dalam UN.
Pengukuran, penilaian dan evaluasi merupakan kegiatan yang bersifat hierarki. Artinya ketiga kegiatan tersebut dalam kaitannya dengan proses belajar mengajar tidak dapat dipisahkan satu sama lain dan dalam pelaksanaannya harus dilaksanakan secara berurutan.
Evaluasi Menurut Suharsimi Arikunto adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu, yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil keputusan[5]. Dalam bidang pendidikan, evaluasi merupakan proses yang sistematis tentang mengumpulkan, menganalisis dan menafsirkan informasi untuk menentukan sejauhmana sebuah tujuan telah dicapai.
B. Ruang Lingkup dan Jenis Evaluasi
Anas Sudijono membagi lingkup evaluasi dalam bidang pendidikan di sekolah menjadi tiga, yaitu: (1). Evaluasi mengenai program pengajaran, (2). Evaluasi mengenai proses pelaksanaan pengajaran, (3). Evaluasi mengenai hasil belajar[6]. Pembagian ini terasa sempit, karena hanya melingkupi proses pembelajaran saja. Dalam konteks yang lebih luas A. Janan Asifuddin menilai bahwa evaluasi pendidikan mestinya tidak hanya berkutat pada masalah pengajaran saja. Menurutnya, evaluasi pendidikan juga harus mencakup masalah seperti tujuan pendidikan, metode, sarana, guru, dan lainnnya. Untuk itu, menurut Janan, dalam evaluasi pendidikan paling tidak dikenal tiga jenis evaluasi yaitu: (1). Evaluasi pendidikan, (2). Evaluasi hasil belajar, dan (3). Evaluasi kurikulum[7].
C. Sasaran Evaluasi
Yang dimaksud dengan sasaran evaluasi pendidikan ialah segala sesuatu yang dijadikan titik pusat perhatian/pengamatan. Salah satu cara untuk mengetahui objek dari evaluasi pendidikan adalah dengan jalan menyorotinya dari tiga aspek, yaitu input, transformasi, dan output[8].









komentar